ADC adakan Diskusi Publik dan MoU di STIBA Bumigora

Diskusi Publik “Potret Perempuan Sasak: Migrasi, Pernikahan dini dan Kekerasan Simbolik”, yang diadakan oleh STIBA Bumigora dan ADC pada hari Kamis 04 Mei 2017 berjalan dengan lancar meskipun salah satu pembicara Prof. Mahyuni tidak dapat hadir karena kurang sehat. Acara diskusi diisi pembicara tunggal Dr. Saipul Hamdi, peneliti sosial-keagamaan alumni Pascasarjana “Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya” Universitas Gadjah Mada Yogyakakarta. Peserta yang hadir pada diskusi kali ini sekitar 50 orang terdiri dari dosen, aktivis dan mahasiswa.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebagai bentuk onoriti dan komitmen pada nasionalisme, kebhinekaan dan NKRI. Zaki Pahrul selaku moderator langsung membuka acara menyapa peserta dengan hangat dan penuh keakraban. Zaki kemudian mengenalkan profil para pembicara, profil lembaga ADC dan STIBA dan langsung meminta Pak Erwin memberikan sambutan mewakili LP2M STMIBA Bumigora. Dalam sambutannya Erwin menyatakan bahwa STIBA sangat mengapresiasi kegiatan diskusi ini dan perlu diperbanyak, apalagi topiknya merupakan bagian dari persoalan rill masyarakat Sasak.

Moderator kemudian memberikan waktu kepada Dr. Saipul Hamdi untuk mempresentasikan materi yang telah disiapkan. Diskusipun kemudian dimulai dengan membahas potret kehidupan perempuan Sasak. Menurut Hamdi bahwa perempuan Sasak juga dirugikan dengan konstruksi gender dalam kebudyaan Sasak ketika perubahan sosial dan media semakin kuat dan cepat. Perempuan Sasak diposisikan sebagai makhluk yang “holistic”, disucikan, dihormati, dijaga, dan tidak boleh bekerja di luar rumah. Dampaknya menurut Hamdi perempuan Sasak menjadi manja dan kurang kreatif. Hamdi juga menyoroti lompatan yang begitu jauh dari kaum perempuan Sasak dari holistic ke un-holistic yakni mulai bekerja keluar rumah bahkan ke luar negeri menjadi pembantu ruman tangga.

 

 

 

 

 

 

Hamdi melihat adanya dua faktor yang mendasari perempuan Sasak migrasi ke luar negeri yakni fator ekonomi yang melanda keluarga. Laki-laki Sasak tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehingga perempuan harus keluar membantu suaminya. Faktor kedua adalah tekanan budaya yang begitu kuat bagi kaum perempuan sehingga migrasi adalah ekspresi perlawanan terhadap tekanan budaya tersebut. Selain itu Hamdi juga menyinggung pernikahan dini di Lombok yang jumlahnya mencapai 50% lebih dengan tingkat perceraian 25%. Ada kecenderungan bahwa sebagian orang tua Sasak ingin segera anak perempuannya menikah supaya beban ekonomi keluarga berkurang. Bahkan pernikahan ini sangat menguntungkan pihak keluarga perempuan karena adanya uang tebusan adat yang lansung masuk ke kantong orang tua, kata Hamdi dalam presentasinya.

Setelah presentasi, sesi tanya jawab diberikan oleh moderator dengan menunjuk beberapa penanya baik dari klangan dosen maupun mahasiwa. Beberapa dosen memberikan pertanyaan terkait dengan posisi perempuan Sasak di masyarakat, apakah benar perempuan Sasak tidak mandiri, bagaimana perempuan Sasak menghadapi perubahan sosial yang ada, bagaimana peran mereka dalam peningkatan ekonomi, apakah dalam presentasi ini telah mewakili perempuan Sasak secara keseluruhan atau hanya sebagian.

Selesai diskusi, STIBA dan ADC langsung menandatangani MoU untuk kerjasama di berbagai bidang termasuk bidang penelitian. Foto bersama dilakukan dan pertukaran piagam cindra mata antara ADC dengan STIBA.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *