Kunjungan Direktur ADC ke Wahid Institute dan Maarif Institute

Di sela menghadiri undangan bedah buku “Pesantren dan Gerakan Feminisme di Indonesia” di Uin Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 7 April 2017, Direktur ADC Dr. Saipul Hamdi menyempatkan diri berkunjung ke Yayasan Wahid Instiute di Jl. Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Meskipun tidak sempat bertemu dengan Pimpinan Wahid Institute, Ibu Yeni Wahid karena kesibukan pada acara lain, Direktur ADC diterima oleh staf Wahid Institute dan mendiskusikan berbagai hal termasuk program-program Wahid Institute. Setelah berdikusi dan sharing, Direktur ADC kemudian mengunjungi kantor pusat Maarif Institute yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Berkecamuk dengan macetnya ibu kota, akhirnya Direktur ADC tiba juga di kantor Maarif Insitute. 

Staf dan pegawai yang bekerja di Maarif Institute langsung menyambut dengan ramah dan penuh dengan kehangatan. Ada suasana yang berbeda dalam kunjungan ini di mana rasa persaudaraan dan rasa kebersamaan begitu kuat. Bukan rahasia publik pendiri Ma’arif Institute Prof. Syafi’i Maarif mengalami buli yang hebat pasca membela Ahok dalam kasus penistaan agama di beberapa media. Oleh karena itu kunjungan ini terasa istimewa lebih-lebih karena dari luar daerah. Kunjungan Direktur ADC disambut oleh kepala administrasi MI Pripih Utomo. Pertemuan ini sepertinya sudah lama dan sangat akrab, padahal ini adalah kunjungan pertama kali. Pertemuan tersebut banyak membahas tentang program Ma’arif Institute dan juga program ADC serta kemungkinan kerja sama yang akan dilakukan pada masa yang akan datang. Utomo langsung memberikan tawaran program yang bisa dishare ke komunitas dan sekolah-sekolah di masyarakat Sasak dan di NTB. Di antara program tersebut adalah Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2017 yang melibatkan siswa di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan ini juga Utomo memperkenalkan tokoh Kristen yang mendapat penghargaan Ma’arif Award karena aksi heroiknya dalam usaha perdamaian atas konflik yang melibatkan Islam dan Kristen di Ambon. Rudi Fofid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Opa Rudi merupakan keluarga korban perang Ambon, di mana orang tua dan saudaranya terbunuh oleh Muslim. Meskipun keluarga terbunuh, tidak sedikitpun ada rasa dendam kepada umat Islam, bahkan sebaliknya Opa seringkali membantu mediasi antara kedua kelompok dan menyuarakan perdamaian. Hampir tiga jam lebih diskusi tentang berbagai hal mulai dari isu kemanusiaan, kemiskinan, korupsi, diskriminasi agama dan lain-lain menjadi tema yang tidak habis didiskusikan. Pertemuan kami tutup dengan makan siang bersama menu nasi padang sambil berdiskusi. Pertemuan ini sangat berkesan dan memberikan banyak inspirasi untuk membantu masyarakat dan mengubah Indonesia ke depan. 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *