Best Halal Tourism: Peluang dan Tantangan

            Dengan NTB mendapatkan predikat best halal tourism (BHT) tingkat internasional patut disyukuri oleh semua pihak. BHT selanjutnya dapat  sebagai starting point  bagi kebangkitan pembangunan NTB. Salah satu aspek yang terkait langsung adalah misalnya seperti sektor pariwisata dengan berbagai konsekuensi berantai lainnya seperti  produk-produk lokal NTB.

            Jika disetujui bahwa BHT terkait erat dengan pembangunan pariwisata NTB maka hal itu adalah merupakan sesuatu yang menyimpan peluang sekaligus tantangan ibarat dua sisi keping mata uang. Di satu sisi dengan predikat BHT NTB dapat mengembangkan apa yang selama ini dikatakan sebagai wisata syariah, wisata religius dan wisata halal lainnya. Di sisi lain tentu ada tantangan untuk mewujudkan hal itu, seperti maraknya perdagangan barang haram (narkoba) yang masih menjadi pekerjaan rumah.

            Sebut saja peredaran narkoba yang ada di Gili Trawangan di mana salah satu media cetak lokal  pernah menurunkan judul “Surga” Narkoba Bernama Gili Trawangan. Judul berita ini menceritakan betapa massif penggunaan narkoba di Gili indah nan elok itu. Di sini narkoba dijual tidak ubahnya seperti penjual kacang goreng yang dengan vulgar (bebas) menawarkan barang dagangannya ke para pengunjung.

            Sontak saja hal itu menjadi catatan pula bagi salah satu media terkemuka Australia yaitu Sydney Morning Herald (SMH). Artinya bilamana media luar telah meliput maka dipastikan hal itu akan menjadi konsumsi internasional yang mana hal itu tentu membuat pencitraan NTB sebagai BHT akan menjadi diskusi panjang. Dengan kata lain ada sesuatu yang kontra produktif ketika NTB mendapatkan predikat BHT namun di sisi lain NTB juga masih dihadapkan pada persoalan yang berlawanan dengan predikat itu.   

            Namun tentu saja hal itu tidak boleh menyurutkan niat dan usaha segenap komponen masyarakat NTB untuk terus –menerus mencoba mempertahankan BHT sebagai predikatnya. Hal ini dikarenakan oleh potensi NTB jika ditilik dari aspek sosial budayanya merupakan masyarakat yang mempunyai keinginan kuat untuk tampil sebagai masyarakat religius. Masyarakat yang diliputi oleh ke-halalan. Tentu hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai kekuatan penggerak dari keberadaan BHT.

            Masyarakat NTB adalah masyarakat yang mempunyai jati diri yang sudah sesuai dengan predikat BHT itu. Maknanya bahwa apapun persoalan yang mengiringi di mana hal itu dapat menjadi ganjalan bukan berarti masyarakat NTB bisa dengan mudah dapat kehilangan arah. Tentu hal itu masih sangat jauh panggang dari api.

            Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana posisi strategis BHT untuk pembangunan pariwisata NTB ke depan? Pertanyaan terdahulu selanjutnya yang akan menjadi bahasan tulisan ini. Tujuannya adalah untuk memahami arti penting dari sebuah predikat yang berikutnya bisa dijadikan sebagai icon (brand) pembangunan masyarakat NTB khususnya pembangunan kepariwisataan.

 

Posisi Startegis

            Sudah saatnya NTB menetapkan arah pembangunan pariwisatanya. Untuk itu BHT dapat menjadi starting point yang strategis untuk memulainya. Bayangkan saja dari beberapa negara yang kota-kotanya dilombakan dalam kategori BHT NTB dapat memenangkannya. Adapaun negara-negara yang kota-kotanya dijadikan peserta lomba bersama NTB adalah seperti kota Abu Dhabi, Atalya Turki, Amman Yordania, Kairo Mesir, Doha Qatar dan Kualalumpur Malaysia. 

Tentu saja masyarakat NTB pantas berbangga hati memenangkan lomba kategori BHT itu. Lagi-lagi kembanggaan itu cukup beralasan disebabkan oleh karena ajang ini bukanlah ajang dalam skala kecil melainkan skala besar (baca: internasional). Ini adalah momentum tepat bagi NTB untuk berjalan lebih jauh pada pembangunan pariwisata. 

BHT dapat menjadi inspirasi telak bagi NTB membangkitkan kepercayaan dirinya dalam pembangunan pariwisata halal, pariwisata syariah dan ataupun pariwisata religius. Ini dikarenakan NTB dapat menawarkan sesuatu yang beda. Bahwa era global saat ini yang dikatakan oleh Antony Giddens sebagai era  masyarakat dunia telah dilebur menjadi satu bentuk dari yang tadinya terkotak-kotak secara teritorial di mana kemudian hal itu tidak dapat lagi diberlakukan disebabkan oleh adanya TI sebagai peretas. Tentu saja anggapan dari Antony Giddens tidak bisa begitu saja diikuti. Bahwa masyarakat global tetap adalah masyarakat yang kompleks, tidak sesederhana yang menjadi anggapannya. Artinya bilamana masyarakat mengikuti definisi globalisasi dari Antony Giddens tersebut di atas sama saja masyarakat telah hanyut dalam aliran propaganda.

Itu karena keunikan sebuah wilayah tentu tidak bisa hanya digeneralisir oleh sebuah asumsi-asumsi. Apalagi asumsi-asumsi tersebut dapat bertabrakan dengan karakter dan atau jati diri masyarakat suatu wilayah, tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang utofis. Mengikuti keinginan Antony giddens dengan definisinya itu bagi masyarakat NTB bisa membuat masyarakat NTB menjadi bukan dirinya sendiri. Masyarakat NTB akan menjadi diri orang lain sehingga untuk mempertahankan diri masyarakat NTB harus bisa mengidentifikasi dirinya sesuai dengan jati dirinya yang sesungguhnya.

Nah sejalan dengan itu pun muncul predikat BHT. Artinya ada interaksionisme simbolik yang menjadi cara pandang untuk memahami masyarakat NTB yang mana hal itu sekaligus bisa menjadi keunikan tersendiri. Bahwa masyarakat NTB hidup dalam aturan-aturan dan atau norma-norma sosial yang dinspirasi dari keberadaannya sebagai masyarakat berperadaban di mana hal itu pula dapat menjadi pembeda dengan entitas lainnya ditataran global. Lalu ketika itu dipertahankan sehingga hal itu dapat menjadi potensi besar bagi pembangunan pariwisata maka hal itu sudah sepantasnya untuk didukung oleh semua pihak.

Ini tentu saja dalam rangka memberi warna yang berbeda di tataran regional maupun global. Homogenitas harus ditolak karena dasar kehidupan memang penuh warna. Di lain sisi barang yang homogen tentu saja akan menurunkan posisi tawarnya. Oleh karenanya NTB harus berani beda dengan mempertahankan BHT sebagai icon selanjutnya.

 

Merawat BHT

            Menurut penulis BHT adalah takdir bagi NTB. Maknanya bahwa NTB memang layak menjual kenunikannya pada aspek-aspek yang berkaitan dengan ke-halalan. Ini tidak bisa dibantah karena jika ini yang diobrak-abrik maka NTB akan menghadapi kekacauan. Masyarakat NTB adalalah entitas yang mem-pribadi artinya masyarakat NTB tidak akan mengenal dirinya sendiri jika masyarakat NTB dilekatkan dengan predikat yang jauh dari keberadaannya yang sebenarnya.

Ibarat sesorang yang hendak mau mengenakan (memakai) baju yang mana baju itu bukanlah yang dikehendaki maka si pemakainya itu tentu tidak akan pernah merasa nyaman, tidak akan pernah merasa menjadi dirinya dan pada gilirannya orang itu tidak akan pernah merasa percaya diri. Begitu juga NTB yang entitasnya memang terdiri dari masyarakat dengan peradabannya yang khas tidak akan bisa menjadi yang lain kendatipun propaganda global seringkali berhembus kencang.

Persoalanya saat ini adalah pada cara atau sistem memamanjemen komunikasi dua arah antara masyarakat luas NTB dengan pemerintah. Bahwa masyrakat NTB secara luas belum memahami betul dirinya sebagai masyarakat yang menjual keunikannya (BHT) sebagai barang yang memang layak jual. Bahwa masyarakat NTB secara luas belum menyadari barang dagangannya itu karena lagi-lagi pemerintah misoreintasi dalam hal ini.

Maksudnya adalah bahwa guna NTB (masyarakat) bangkit untuk dapat diajak membangun pariwisata NTB pemerintah harus gencar melakukan sosialisasi dengan memanfaatkan berbagai saluran. Bahwa untuk pemerintah membangun masyarakat sadar wisata (komunitas wisata) adalah tentu dengan pelibatan masyarakat luas secara total. Ini harus dilakukan jika NTB mau mendapatkan out put yang optimal dari keberadaannya sebagai BHT.

Oleh karenanya BHT harus dijadikan sebagai brand seperti melekatnya SNI pada produk-produk nasional Indonesia. Selangkah dengan itu maka di sini diusulkan agar BHT menjadi label pada setiap produk lokal NTB. BHT harus menjadi asesoris (label) pada semua barang kreasi masyarakat lokal. BHT dapat saja dituliskan pada berbagai produk bahkan bisa juga dituliskan diberbagai tempat di mana itu menjadi pintu masuk wisatawan. Sebut saja misalnya di pintu-pintu masuk seperti di pelabuhan,dermaga-dermaga, hotel-hotel sampai pada produk-produk kerajinan tangan dapat pula dituliskan BHT.

Ini juga dihajatkan bagi sosialisasi (baca: internaslisasi) nilai-nilai (baca: komunikasi) kepada masayarakat luas agar mereka segera memahami diri mereka sebagai bagian dari duta wisata yang memang harus mewujudkan BHT itu sebagai barang dagangan. Jika ini tercapai tentu saja akan ada mimpi untuk mendapatkan hasil optimal dari BHT. Daripada harus lompat-lompat brand yang lagi-lagi brand itu belum tentu sealur-sejalan dengan jati diri masyarakat setempat (baca:NTB).    

Ahmad Efendi

ADC, Tulisan ini pernah di muat di Lombok Post, 3 Juli 2015

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *