Buruh Migran Perempuan: Potret Kehidupan TKW Lombok di Malaysia dan Arab Saudi

Buruh Migran Perempuan:

Potret Kehidupan TKW Lombok di Malaysia dan Arab Saudi

Oleh Dr. Saipul Hamdi

(Dosen & Peneliti Sosial-Kegamaan)

 

 Migrasi perempuan Indonesia ke luar negeri telah banyak diteliti dan masih menjadi topik yang menarik untuk dibahas karena berbagai persoalan yang menimpa mereka. Penelitian tentang migrasi perempuan Sasak sendiri masih kurang, padahal fenomena migrasi perempuan Sasak terus meningkat dari tahun ke tahun dan kontribusi mereka tidak kecil dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi keluarga. Tidak jarang perempuan migran Sasak menjadi tulang punggung ekonomi keluarga pada saat mereka tidak bisa bergantung kepada anak laki-lakinya. Bahkan kaum migran perempuan Sasak menanggung saudaranya yang laki-laki merelakan diri berkeja di luar negeri supaya dapat membantu pendidikan adek-adeknya.

Migrasi dalam kasus perempuan Sasak merupakan bentuk perlawanan dan pelarian kaum perempuan Sasak atas konstruksi dan budaya patriarki yang mengekang kreativitas dan aktivitas mereka sehari-hari khsusunya di ranah publik. Perempuan ditempatkan pada ranah privat mengurus urusan rumah tangga. Melalui migrasi ini mereka mendapatkan kebebasan dan kemerdekaannya di negara-negara lain yang tidak akan pernah diperoleh di kampung mereka sendiri akibat kontrol sosial dan keluarga yang ketat memelihara tradisi dan budaya lokal. Meskipun terdapat berbagai persoalan sosial yang mereka hadapi di tempat bekerja yang baru, akan tetapi kebebasan ekspresi individual dan upaya melepas diri dari jeratan kultural dapat tercapai ketika keluar dari daerahnya dan bekerja di negeri tersebut.

Tidak semua TKI dan TKW meraih kesuksesan di negeri orang dalam proses migrasinya, banyak juga yang gagal dan menghadapi persoalan-persoalan yang lebih berat di lingkungan tempat mereka bekerja. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi potret kehidupan TKW di Malaysia dan Arab Saudi asal Lombok dan dampaknya terhadap prubahan perilaku mereka di masyarakat dan bagaimana mereka menegosiasikan identitas lokal Sasak mereka dengan identitas baru dari daerah lain.

 

Tantangan TKW di Luar Negeri

NTB dikenal sebagai daerah distributor TKI terbesar kedua Indonesia setelah Jawa Timur yakni 46.187 orang per tahun. Mayoritas TKI adalah penduduk yang berdomisili di Lombok mencapai 44.500 orang, sisanya dari kepulauan Sumbawa 1000 orang. Lombok Timur, Tengah dan Utara mendistribusi TKI paling besar disebabkan tingginya tingkat kemiskinan di tiga daerah ini. Ini juga terlihat dari rendahnya IPM di Lombok Utara, Tengah dan Timur yang menempati rangking ke 10, 9 dan 8 dari 10 kabupaten di NTB. Pada awalnya yang menjadi buruh migran adalah kaum laki-laki yang kesulitan mengembangkan ekonomi keluarga mereka, namun dalam perkembangannya buruh migran perempuan atau yang lebih dikenal dengan TKW juga ambil bagian dengan berbagai macam alasan dan latarbelakang sosial-ekonomi.

Jumlah TKW dari NTB terus meningkat dari tahun ke tahun dimulai sejak tahun 1996an. Menurut data BPS Provinsi NTB bahwa pada tahun 2015 jumlah TKW mencapai angka 9.968 orang. Angka ini sangat tinggi dan kontras dengan tradisi Sasak yang menempatkan perempuan pada posisi yang “taboo” bekerja di wilayah publik jauh dari rumah dan keluarga. Sedangkan di Indonesia jumlah TKW lebih banyak dibanding TKI laki-laki dalam priode 2011-2014. Menurut data BNP2TKI, penempatan TKI tahun 2011 sebanyak 586.802 orang, terdiri dari 376.686 TKI perempuan (64 persen) dan 210.116 TKI laki-laki (36 persen). Tahun 2012 sebanyak 494.609 TKI, terdiri dari 279.784 TKI perempuan (57 persen) dan 214.825 TKI laki-laki (43 persen). Tahun 2013 sebanyak 512.168 TKI, terdiri dari 276.998 TKI perempuan (54 persen) dan 235.170 TKI laki-laki (46 persen). Tahun 2014 sebanyak 429.872 TKI, terdiri dari 243.629 TKI perempuan (57 persen) dan 186.243 TKI laki-laki (43 persen).   

Pilihan sebagai buruh migran berarti memilih hidup di tempat yang serba baru baik dari segi bahasa, budaya, makanan dan hukum. Hidup di negara orang lain membutuhkan adaptasi baru mulai dari penguasaan bahasa, budaya dan juga penguasaan undang-undang negara. Para TKW seharusnya menguasai unsur-unsur tersebut sebelum berangkat ke tempat bekerja yang baru sehingga tidak akan menghadapi persoalan berat. Namun kenyataannya sebagian dari mereka tidak mau belajar dan nekat untuk berangkat tanpa dibekali dengan pengtahuan dan skill yang cukup. Mereka tidak mempunyai kiinginan yang kuat untuk belajar tentang itu karena faktor lingkungan yang lemah dalam tradisi membaca dan menulis.

TKI maupun TKW Indonesia tidak mempunyai banyak pilihan dalam pekerjaan di luar negeri karena minimnya pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Tingkat pendidikan para TKI dan TKW umunya tidak sampai sarjana, lebih banyak tamatan SD, SMP dan SMA. Menurut BNP2TKI, dari angka penempatan TKI tahun 2014 sebanyak 429.872 orang yang lulusan SD sebanyak 138.821 orang (32,29 persen), lulusan SMP 162.731 orang (37,86 persen), lulusan SMU 106.830 orang (24,85 persen, lulusan Diploma 17.355 orang (4,04 persen), lulusan Sarjana 3.956 orang (0,92 persen), dan lulusan pascasarjana 179 orang (0,04 persen).  Bahkan ada yang buta hurup tidak bisa membaca dan menulis, namun karena semangatnya luar biasa mencari rezeki dia berani berangkat keluar negeri menjadi buruh migran. Pilihan pekerjaan mereka pada umumnya adalah pembantu rumah tangga bagi kaum migran perempuan, sedangkan laki-laki bekerja di daerah perkebunan kelapa sawit dan karet.

Mayoritas TKW Indonesia berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dan hanya sebagian kecil yang bekerja di sektor jasa dan industri. Negara-negara di Asia Tenggara yang banyak menggunakan jasa PRT seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Sedangkan di luar itu adalah negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Suriah, Qatar dan Uni Emirat Arab. Yang menarik adalah negara-negara yang menerima jasa PRT adalah negara-negara bekas kerajaan Islam, di mana tradisi perbudakan adalah bagian dari kultur kerajaan tersebut. Profesi pembantu rumah tangga (PRT) dipilih karena tidak membutuhkan skill, dan umumnya perempuan dewasa mampu melakukan hal tersebut. Padahal menurut saya PRT adalah pekerjaan yang tidak mudah karena tanggung jawabnya begitu besar tidak hanya tentang keselamatan anak, tetapi juga pendidikan dan pembelajaran terhadap bayi dan anak-anak yang diasuh. Bukan rahasia umum jika PRT lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak yang mereka asuh dibanding ibu kandungnya. Karena PRT tinggal bersama keluarga, mereka harus memahami tradisi dan aturan-aturan di internal keluarga supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan hal-hal yang tidak diinginkan.

Tantangan terbesar yang dihadapi TKW seperti yang saya singgung di atas adalah persoalan penguasaan bahasa tempat bekerja. Pemerintah belum maksimal memfasilitasi pelatihan bahasa yang cukup bagi TKW sebelum berangkat, selain rendahnya minat mereka untuk belajar. Bahkan manipulasi data oleh agen-agen PJTKI seringkali terjadi hanya untuk meloloskan mereka begitu saja bekerja di luar negeri tanpa proses pembelajaran dan pelatihan bahasa yang baik. Sebagian besar PJTKI lebih berorientasi profit dan kurang memperhatikan nasib TKI dan TKW setelah penempatan. Kurangnya sosialisasi kepada calon TKW yang mayoritas tamatan SD, SMP dan SMA tentang pentingnya penguasaan bahasa menempatkan mereka dalam posisi yang “rawan” penipuan dan kekerasan. Potensi kesalahpahaman antara PRT dengan majikan sangat besar akibat tidak lancarnya komunikasi antara mereka.

Pemahaman tentang kebudayaan dan nilai-nilai lokal tempat bekerja tidak kalah penting sebagai instrument untuk sosialisasi, adaptasi dan asimilasi budaya. Para TKW semestinya memiliki modal pengetahuan tentang tradisi dan kebudayaan lokal negara tempat mereka bekerja untuk meminimalisir kesalahpahaman dan meningkatkan rasa keberterimaan majikan. Mereka harus paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam adat dan kultur lokal daerah calon majikan. Begitu juga dengan penguasaan hukum yang berlaku di negara setempat harus dipahami dan dikuasai oleh calon TKW. Penting bagi mereka untuk mengetahui hak dan kewajibannya ditambah dengan kontrak kerja yang mereka tanda tangani. Sebagian besar TKW tidak memahami hak-hak dan kewajiban mereka termasuk besaran gaji yang akan diperoleh. Agen-agen PJTKI menyembunyikan kontrak yang sebenarnya dan bahkan mengambil sebagian gaji mereka dipotong terlebih dahulu. Inilah salah satu faktor kenapa TKW tidak diberi gaji karena gaji mereka telah diambil duluan oleh agen PJTKI.

 

 

Kekerasan Fisik, Eksploitasi Seksual dan “Bonus Anak”  

Sebagian besar TKW yang bekerja sebagai PRT tidak lebih dipandang sebagai budak, yang diperlakukan semena-mena bekerja tanpa batas waktu. Mereka dipekerjakan sesuai keinginan majikan, dan apabila menentang atau melawan perintah majikannya TKW takan mengalami diskriminasi dan kekerasan fisik maupun seksual. Dapat dikatakan bahwa migrasi adalah perbudakan modern yang dilegalkan oleh negara. Negara tidak dapat berbuat banyak untuk melindungi keselamatan TKW dari kekerasan dan penipuan oleh agen PJTKI dan majikan. Cerita sedih dan menyakitkan buruh migran khususnya para TKW terus bermunculan dengan beragam kasus menimpa mereka. Sebagian dari mereka menerima kekerasan fisik seperti pemukulan, pembakaran dengan putung rokok, distrika, tidak memberikan gaji, pelecehan seksual, pemerkosaan dan pembunuhan. Kasus ini terjadi menimpa TKW di berbagai negara baik di negara-negara berpenduduk Muslim Timur Tengah dan Asia dan negara non Muslim dengan pola yang berbeda-beda.

Artikel ini akan menampilkan beberapa kasus yang menimpa TKW yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga khususnya di Timur Tengah dan Malaysia. Perlakuan terhadap buruh migran perempuan di Malaysia dan Arab Saudi diwarnai kekerasan fisik, non fisik di dalam rumah tangga. Potensi kekerasan sangat besar terjadi karena TKW tinggal dalam satu rumah, sedangkan pantauan sulit dilakukan karena tertutup dalam wilayah privasi keluarga. Pasangan suami istri Ahmad dan Maemunah dari Lombok Timur misalnya mengalami pengalaman yang tragis, mereka harus menerima kenyataan pisah ranjang setelah keduanya memutuskan pergi menjadi buruh migran. Ahmad lebih dahulu ke Malaysia dengan meninggalkan istrinya Maemunah dan satu anak. Tidak tahan sendirian di rumah Maemunah memutuskan ke Qatar meinggalkan anaknya pada orang tua. Keduanya mencari rezeki, tetapi beda negara sehingga mereka tetap tidak bisa melepas kangen. Dua tahun berjalan, kontrak keduanya juga selesai dan akhirnya mereka bertemu di rumah. Ahmad terlebih dahulu pulang dan 6 bulan kemudian istrinya menyusul.

Kedatangan Maemunah disambut suami, keluarga dan mertuanya, kebahagian merekapun pecah dalam keheningan malam. Sayang sekali kebahagiaan terganggu karena adanya penyakit pada perut Maemunah. Keluarga mulai curiga dengan membesarnya perut Maemunah dan mempertanyakan penyakit apa yang dideritanya. Maemunah tidak mau bercerita tentang apa yang dialami, dan tetap pada pendiriannya bahwa dia tidak hamil karena tidak melakukan hubungan dengan pria lain. Pak RT akhirnya turun tangan berinisiatif membawa Maemunah ke Puskesmas untuk memeriksa penyakitnya, dan ternyata dia positif hamil. Mendengar hasil pemeriksaan itu keluarga dan satu kampung mulai menyidang Maemunah atas apa yang terjadi dengan dirinya. Dia akhirnya mengakui dirinya dibius dan dalam keadaan tidak sadar disetubuhi oleh laki-laki yang tidak dikenalnya. Ahmad awalnya menerima nasib istrinya dan tidak ingin menceraikannya, namun karena desakan keluarga yang memberikan pilihan apakah ikut istri atau keluarga, memaksa Ahmad memilih keluarga dan pisah ranjang dengan istrinya yang sedang hamil.  

Ifah salah satu TKW asal Lombok Timur di Malaysia harus pulang dengan kehamilannya dan menjadi bahan pembicaraan di lingkungan keluarga. Ifah terkena deportasi dan transit di Batam beberapa bulan dan minta keluarga membelikan tiket untuk pulang ke kampung halamannya. Kakaknya kemudian membelikan tiket pulang dan ternyata Ifah hamil besar 7 bulan. Ifah terselamatkan dari gosip miring karena membawa suaminya asal Sumatera bersama-sama pulang dari Malaysia. Setelah melahirkan Ifah kembali berpisah dengan suaminya yang berangkat lagi ke Malaysia. Sempat mengirim belanja untuk istri dan anaknya setelah kerja di Malaysia, persoalan baru muncul karena Ifah tidak tahan ditinggal sendirian dan akhirnya menyusul suami ke Malaysia secara diam-diam. Mereka tidak bertemu dan suaminya kecewa dengan keputusan Ifah yang tidak komunikasi sebelumnya. Ifah akhir kembali dari Malaysia dan pergi ke Kalimantan bersama kakaknya kemudian menikah lagi dengan suami baru dari Jawa.

Nasib Karina TKW asal Puyung Lombok Tengah lebih parah lagi, dia diduga korban perkosaan oleh majikannya di Riyadh. Karina menjalani perawatan instensif di rumah sakit Provinsi NTB setelah dideportasi dari Riyadh. Karina mengalami luka jahitan di perut dan di paha, jika batuk-batuk perutnya ikut sakit. Karina tidak mampu berbicara pada waktu itu dan hanya menatap ruang kosong dengan wajah trauma yang sangat berat. Dia diduga korban perkosaan oleh majikannya dan menggugurkan kehamilan sebanyak dua kali. Karina juga tidak menerima gaji selama 11 tahun, kata bapaknya Amaq Doji dan dia tidak pernah diizinkan keluar rumah oleh majikannya. Karina tidak pernah memberi kabar kepada orangtuanya selama 11 tahun dan sekarang menerima Karina dalam keadaan sakit dan trauma.  

Kasus-kasus lain adalah Rika Hartini, TKW dari Tanak Awu menceritakan pengalamannya disiksa oleh majikan gara-gara salah cara menyeterika baju. Dadanya dipukul dan tangannya diseterika hingga mengalami luka bakar. Anak tiga ibu ini menelpon suaminya untuk pulang karena tidak kuat dengan siksaan di sana. Setelah suami mengontak agen PJTKI yang memberangkatkannya, petugas menjemput Hartini dan mendapat perawatan medis. Dia kemudian dipaksa untuk menandatangi perjanjian yang berisi tidak akan menuntut majikan, perusahaan yang memberangkatkannya. Muliati, TKW asal Lombok yang mengalami patah tulang rusuk akibat melompat dari rumah majikan lantai 2 ketika ada upaya pemerkosaan oleh majikannya di Arab Saudi. Muliati beranak satu mengadu nasib ke Arab Saudi untuk menolong ekonomi keluarganya. Suami dan bapaknya berada di rumah, mereka sangat kecewa dengan berita tersebut dan meminta Pemrov NTB memulangkan Muliati.

Sri Rabitah, TKW yang kehilangan ginjalnya di Doha Qatar juga menjadi cerita pilu kaum migran perempuan Sasak. Sarafiah, TKW asal Dompu dibunuh dan menjadi korban trafficking di Dubai. Salah seorang TKW yang tidak disebut namanya diindikasikan berasal dari Lombok juga mengalami pemerkosaan di Arab Saudi. Dia ditemukan oleh polisi Arab Saudi di pinggir jalan wilayah Al-Jabal Arab Saudi ketika dia dan teman perianya meninggalkan rumah majikan menuju hotel. Teman prianya ini bertemu dan mengajak 7 temannya yang lain dari Arab. Mereka mabuk dan meperkosanya lalu membuangnya di pinggir jalan.

TKW-TKW di daerah lain juga mengalami nasib yang sama, mereka mengalami kekerasan fisik dan non fisik. TKW asal NTT Nirmala Bonat mengalami pemukulan, siksaan, dan diseterika tubuhnya sehingga mengalami kecacatan seumur hidup. Bayanah mengalami siraman air panas gara-gara dituduh membunuh anak majikannya. Bayanah menceritakan bahwa anak majikannya tersebut cacat dan tangannya tidak lurus, ketika memandikan tangan anak itu tergelincir dan terus membengkak dan akhirnya meninggal. Bayanah dituduh membunuh kemudian dipenjara dan mendapat cambukan sebanyak 50-300 kali. Dia lolos dari hukuman pancung setelah mendapat pemaafan dan dikenai denda 55 ribu real yang dibayarkan oleh KBRI. Dua perempuan lainnnya juga mengalami kasus yang mirip yaitu Jamilah asal Cianjur yang dituduh membunuh majikannya Sali al-Ruqi yang diduga akan memperkosanya.

Kasus-kasus di atas hanya sebagian kecil dari kasus nestapa menimpa buruh migran asal Indonesia dan Lombok khususnya. Masih banyak kasus yang belum terungkap oleh media dan tidak semua TKW berani menceritakan pengalamannya. Di balek kasus-kasus kekerasan ini, banyak juga yang berhasil menjadi buruh migran. Bukan rahasia umum TKI Indonesia penyumbang devisa yang tidak kecil bagi Indonesia mencapai 100 Triliun per tahun dan tembus 144. 95 tahun 2015. Sedangkan di NTB devisa TKI mencapai angka 113 Miliar, Lotim sendiri diperkirakan 55 Miliar per tahun.

 

 

 

 

 

 

 

Migran Perempuan: Membunuh Warga Sendiri

Berbagai peristiwa yang menimpa migran perempuan di atas adalah bentuk kegagalan negara dalam melindungi warganya. Meskipun banyak yang berhasil dan mengalami nasib baik di negara tempat bekerja, akan tetapi kasus-kasus kekerasan terus bermunculan mengancam eksistensi kaum buruh migran perempuan. Pemerintah seharusnya memberikan perlindungan yang kuat, tegas dan MoU yang jelas kerja sama bilateral antara G to G. Tidak ada jalan lain yang bisa mengamankan pra TKW dari siksaan fisik dan non fisik oleh majikannya kecuali kontrak kerja yang jelas, termonitor dan penegakan hukum di negara tersebut. Sampai kapan aksi kekerasan ini akan dapat dihentikan oleh pemerintah, sedangkan kaum migran perempuan terus bertambah seiring tingginya angka pengangguran, tuntutan serta tekanan ekonomi keluarga. Jika dibiarkan terus seperti ini sama halnya kita membunuh warga kita sendiri menyerahkan hidupnya pada majikan. Negara harus lebih sadar, responsif an sensitif dengan hal ini terkait resiko dan bahaya bagi kaum migran perempuan dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.

Pemerintah dapat dikatakan “gagal” sementara ini melindungi TKI dan TKW khususnya dengan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Mereka seolah-olah dibiarkan hidup terlantar tidur di bawah jembatan di Arab Saudi dan hutan belantara di Malaysia karena lari dari majikan. Apabila kita bandingkan dengan respon negara-negara lain terhadap keberadaan dan keselamatan warganya, Indonesia masih jauh ketinggalan. Belajar dari pemerintah Australia yang membela mati-matian warganya yang terkena hukuman mati dalam kasus narkoba. Tony Abbot berani menelpon presiden Jokowi berkali-kali untuk menghentikan eksekusi mati tersebut dan melobi PBB. Pemerintah kita dalam kenyataanya kurang peduli dengan nasib warganya dan posisi tawar mereka dengan pemerintah penerima jasa migran sangat lemah mulai dari besaran gaji hingga perlidungan keselamatan.  

Pergeseran peran gender akibat perubahan sosial, politik dan ekonomi tidak membuat kondisi perempuan lebih baik pada sisi-sisi tertentu, tetapi sebaliknya sangat membahayakan kehidupan mereka. Perempuan yang dulunya sangat “taboo” bekerja di luar rumah, atau di luar desa, sekarang melompat lebih jauh bekerja di luar negeri tanpa ditemani oleh suami, keluarga dan muhrim mereka yang lain untuk melindungi. Perempuan yang dulunya dinafkahi dan dijaga kehormatannya, sekarang sebaliknya menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Bapak dan suaminya tinggal di rumah mengharapkan kiriman uang dari anak perempuannya yang bekerja di luar negeri. Bapak dan suaminya malah tinggal di rumah mengurus anak-anak mereka. Kondisi ini bukan salah laki-laki sepenuhnya karena perempuan sendiri memilih menjadi buruh migran.

Apakah ada yang salah dengan perubahan konstruksi gender kita, atau ini adalah bagian dari sekenario menjebak kaum perempuan dalam medan perang yang barbar. Setelah kalah dan terluka berat di medan perang mereka akan kembali ke habitatnya yakni sebagai ibu rumah tangga. Bisa jadi fenomena ini lebih karena tidak adanya ruang yang aman bagi perempuan sehingga perempuan tidak dapat berekspresi secara bebas menularkan bakat dan skillnya. Seandainya ruang-ruang sosial mendukung dan aman buat kaum perempuan, maka produktifitas kerja mereka jauh lebih baik dibanding laki-laki atau setidaknya bisa bersaing. Idealnya adalah apabila ketersediaan lapangan kerja di Indonesia semakin baik dan terjamin, maka perempuan-perempuan Indonesia termasuk perempuan NTB tidak harus keluar negeri untuk bekerja.

Untuk menjaga keselamatan TKW terdapat lima hal yang perlu dilakukan pemerintah yaitu, pertama, adanya MoU dan kesepakatan yang jelas antara pemerintah dengan pemerintah tujuan migran untuk melindungi. Kedua, para TKW harus dibekali sebaik mungkin tentang penguasaan bahasa, budaya dan hukum. Ketiga, kontrak kerja termasuk tugas-tugas yang akan diemban oleh migran harus konkrit dan jelas sehingga tidak terjadi eksploitasi dalam proses bekerja. Keempat, pemerintah membuat satgas khusus di kedutaan masing-masing untuk mengecek dan mengevaluasi keberlangsungan pekerjaan buruh migran termasuk kebutuhan dan kesulitan yang mereka hadapi. Kelima, system penggajian yang jelas setiap bulannya. Apabila tidak menerima gaji maka mereka dapat melapor ke pemerintah setempat. Keenam, bersinergi dengan PJTKI dan memantau aktivitas mereka termasuk pertanggungjawaban pada proses penempatan dan pemulangan para TKW.  

1 Comment
  • Assalamualaikum wrb salam persaudaraan,perkenalkan saya Sri Wulandari asal jambi,maaf sebelumnya saya hanya mau berbagi pengalaman kepada saudara(i) yang sedang dalam masalah apapun,sebelumnya saya mau bercerita sedikit tentang masalah saya,dulu saya hanya penjual campuran yang bermodalkan hutang di Bank BRI,saya seorang janda dua anak penghasilan hanya bisa dipakai untuk makan anak saya putus sekolah dikarenakan tidk ada biaya,saya sempat stres dan putus asa menjalani hidup tapi tiap kali saya lihat anak saya,saya selalu semangat.saya tidak lupa berdoa dan minta petunjuk kepada yang maha kuasa,tampa sengaja saya buka internet dan tidak sengaja saya mendapat nomor tlpon Aki Sulaiman,awalnya saya Cuma iseng2 menghubungi Aki saya dikasi solusi tapi awalnya saya sangat ragu tapi saya coba jalani apa yang beliau katakan dengan bermodalkan bismillah saya ikut saran Aki Sulaiman saya di ritualkan dana gaib selama 3 malam ritual,setelah rituialnya selesai,subahanallah dana sebesar 2M ada di dalam rekening saya.alhamdulillah sekarang saya bersyukur hutang di Bank lunas dan saya punya toko elektronik yang bisa dibilang besar dan anak saya juga lanjut sekolah,sumpah demi Allah ini nyata tampa karangan apapun,bagi teman2 yang mau berhubungan dengan Aki Sulaiman silahkan hub 085216479327 insya Allah beliau akan berikan solusi apapun masalah anda mudah2han pengalaman saya bisa menginspirasi kalian semua,Assalamualaikum wrb.JIKA BERMINAT SILAHKAN HUB AKI SULAIMAN 085-216-479-327,TAMPA TUMBAL,TIDAK ADA RESIKO APAPUN(AMAN) .

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *