UIN Jakarta Gelar Bedah Buku “Pesantren dan Gerakan Feminisme di Indonesia”

Alidachlancenter.com Bertempat dikampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (7/4/2017), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin menggelar acara bedah buku “Pesantren dan Gerakan Feminisme di Indonesia. Dalam kesempatan ini, selain menghadirkan langsung penulis buku Pesantren dan Gerakan Feminisme di Indonesia, panitia juga  menghadirkan Widi Widianto, direktur Selaparang TV sebagai perwakilan Pemda Lombok Timur dan Zuhairi Miswari, direktur Moderate Muslim Society.

Ratusan mahasiswa semua jurusan di lingkungan UIN Jakarta hadir  dalam acara ini. Dimulai pukul 08:30 sampai Pukul 11:40 WIB, acara bedah buku kali ini berlangsung sangat cair. Para peserta  sangat antusias dan semangat untuk berdialog langsung dengan penulis buku, Saipul Hamdi.

Sebagai pembuka sekaligus keynote speaker, Widi Widianto menyampaikan tiga poin utama yaitu tentang sejarah dan kondisi sosial masyarakat Lombok Timur, kondisi sosio-religius masyarakat dan pendidikan pesantren dan madrasah. Menurut Widi, pesantren dan madrasah mempunyai peran yang sangat signifikan dalam meningkatkan kemajuan  pendidikan di Lombok.

Saipul Hamdi, sebagi penulis buku, memberikan stimulus terhadap semangat gerakan perempuan Islam di Indonesia terutama bagi para mahasiswi yang sedang belajar, agar pada masa mendatang selalu berjuang bahkan sebagai penggerak masyarakat di wilayahnya masing-masing. Perempuan dalam konteks Islam menurut direktur Ali Dachlan Center ini terlalu dipersempit makna dan aksesnya. Hal ini disebabkan oleh paradigm tafsir tentang ayat-ayat feminism dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Oleh sebab itu, dalam pandangannya, penafsiran tentang ayat-ayat feminis perlu pengkajian ulang berdasarkan dinamika sosial dan konteks masyarakat modern. Sehingga perempuan mendapatkan hak-haknya sesuai fitrah baik secara sosial maupun  secara keagamaan.

Sementara itu, Zuhairi Mishrawi memaparkan fungsi pesantren sebagai wadah pendidikan. Menurutnya, pesantren bukan anti berbicara feminism, namun harus menjadi garda depan dalam memperjuangkan perempuan. Pesantren dan polapengajarannya di Indonesia dominan fundamentalis sehingga melupakan aspek feminism sebagai bagian kajian Islam. Dalam paparannya,  zuhaeri juga memberikan pencerahan bagi kaum hawa yang hadir di acara bedah buku tersebut.

Acara bedah buku ditutup dengan dialog dan tanya jawab antara peserta dan pembicara. Tentu pertanyaan di dominasi oleh mahasiswi yang penasaran terhadap apa hakikat dari feminisme Islam tersebut. (Rof’il Khaeruddin/ADC)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *