Kemana Petani Muda Kita

 

Di era global ini, sektor pertanian menjadi sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian dapat menciptakan kedaulatan pangan, sebagai penyumbang pendapatan domistik bruto (PDB), penyerap tenaga kerja, dan mengurangi kemiskinan, dan menciptakan iklim kondusif bagi pertumbuhan sektor lainnya. Kedudukan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi nasional adalah cukup nyata, dilihat dari proporsinya terhadap pendapatan nasional di mana sumbangan sektor pertanian terhadap GDP adalah 13,80 % (BPS, 2016). Namun hal ini tidak terlirik dan menjadi sesuatu yang tidak menarik untuk berinvestasi di sektor pertanian khususnya bagi kaum muda.

            Menurut Menteri pertanian RI periode 2009-2014, Dr Suswono dalam buku “Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2015-2045” terdapat lima hal tantangan besar sektor pertanian di masa yang akan datang dan membutuhkan perhatian besar. Kelima tantangan tersebut adalah (1) meningkatkan pendapatan petani yang saat ini hanya memiliki lahan dibawah 0,5 ha/KK (tantangan agraria); (2) meningkatkan produksi pangan & komoditas pertanian lainnya (agronomis); (3) tantangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan penduduk yang terus tumbuh (demografi); (4) tantangan untuk memenuhi dan memfasilitasi proses transformasi perekonomian nasional dari berbasis fosil menjadi basis bioekonomi; dan (5) tantangan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dalam konteks perubahan iklim global (sustainablity). (SIPP 2015-2045).

            Selain dari lima tantangan di atas masih ada satu hal yang penting dan urgen bagi kelangsungan pertanian. Menurut saya adalah adanya ketidakpahaman & keengganan pemuda Indonesia yang langsung untuk menjadi agen dalam reformasi pertanian Indonesia. Kaum muda yang menjadi regenerasi petani kita tidak melirik ke arah sana. Mereka lebih tertarik kepada sektor lain seperti industri dan jasa. Menurut BAPPENAS, umur produktif tenaga kerja di Indonesia berkisar antara 15-65 tahun. Artinya, umur merupakan salah satu faktor yang menentukan produktifitas kinerja petani. Oleh karena itu perlu adanya dorongan dan treatment khusus bagaimana agar regenerasi petani itu dapat berjalan. Ini merupakan tantangan dan PR untuk bangsa ini.

            Salah satu hal yang membuat menurunnya minat kaum muda untuk masuk kedalam sektor pertanian khususnya di arus hulu adalah pertimbangan opportunity cost. Secara sederhana, opportunity cost atau biaya peluang adalah biaya yang timbul karena memilih sebuah kegiatan bisnis tertentu dibanding kegiatan bisnis yang lain. Artinya, dengan curahan waktu yang sama, sektor pertanian memberikan insentif yang lebih rendah dibandingkan dengan sektor lain seperti sektor industri dan jasa.

            Permasalahan tersebut terjadi hampir di setiap wilayah bahkan pulau kita ini, Lombok. Hal ini berdampak pada berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian hulu yang mengakibatkan upah tenaga kerja naik. Sehingga jangan heran jika upah tenaga kerja di sektor pertanian hulu bisa hingga mencapai 80 ribu untuk harian.

            Ini menjadi catatan penting bagi kaum muda sebagai regenerasi petani-petani yang sudah tidak produktif lagi agar tergerak untuk masuk kedalam sektor pertanian khususnya sektor hulu. Semoga kedepannya kita berharap adalah ada pahlawan-pahlawan muda yang bangga mengatakan bahwa saya bangga menjadi petani. Aamiin.

 

Peran Kementan Mencetak Petani Handal

Peran generasi muda, khususnya petani muda dalam pembangunan pertanian sangatlah penting untuk mendukung peningkatkan pertanian di Indonesia. Telah kita ketahui bahwa kondisi pertanian di Indonesia saat ini mengalami penurunan minat, terbukti banyak produk-produk pertanian dari luar negeri yang dijual di pasaran tradisional maupun modern, mulai jenis buah-buahan, sayuran dan pengolahan hasil pertanian.  Oleh karena itu mari kita terus dorong petani muda agar berperan aktif, kreatif dan inovatif dan  tertarik dengan bidang pertanian, sehingga dapat   menjadi pemicu dan pemacu sebagai motor penggerak bidang pertanian di Indonesia. Untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha, khususnya di kalangan petani muda, perlu dilakukan pembekalan mental wirausaha, membuka kesempatan berwirausaha seluas-luasnya, dan membantu mempermudah akses terhadap aspek pendukung dalam usahanya. Untuk mendukung program tersebut diperlukan kegiatan dalam bentuk  pelatihan, pembinaan, dan magang supaya para petani muda calon wirausaha merasakan kemudahan dalam menciptakan dan merintis usaha yang menguntungkan.

            Untuk mensukseskan program pembangunan pertanian perlu didukung oleh para generasi pemuda yang mempunyai potensi sumber daya manusia yang strategis,  memiliki kemampuan ide-ide dan pemikiran baru untuk menciptakan sesuatu yang berbeda. Dalam rangka menyiapkan SDM petani muda yang memiliki kompetensi kerja tinggi, salah satu gebrakan baru yang dibuat oleh kementerian pertanian (Dr. Andi Amran Sulaiman) adalah program GEMPITA (Gerakan Pemuda Tani). Dalam kegiatan ini, Staf Khusus Menteri Pertanian, Syam Herodian menegaskan Kementan telah menyiapkan program strategis untuk mendorong keterlibatan pemuda dalam upaya peningkatan produksi pangan sehingga mampu mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Kementan menyiapkan bantuan mulai input produksi seperti benih, pupuk, pelatihan, alat mesin pertanian dan sampai pada jaminan harga pangan.

“Jika pemuda bergerak dan mau bergelut di bidang pertanian modern, mimpi Imdonesia menjadi lumbung pangan dunia pasti berhasil. Pemuda pun dapat menikmati hasil pertanian dengan keuntungan yang lebih dibanding bekerja di luar sektor pertanian,” katanya saat memberikan arahan dalam Lokakarya. Ia mengungkapkan, pemuda memiliki peranan strategis sebagai upaya peningkatan pertanian dan menjalankan pertanian modern secara berkelanjutan. Melalui pertanian modern, pemuda bisa mewujudkan kreativitasnya dan berinovasi melakukan pendampingan, penciptaan teknologi pertanian terapan di masyarakat dan membangun pasar yang menguntungkan petani. “Artinya keterlibatan pemuda tidak hanya sekedar mengawal produksi, tapi juga dapat menjadi pelaku agribisnis yang mampu membangun pertanian modern sehingga meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkapnya.

            Semoga ini menjadi wadah untuk pemuda guna menumbuhkembangkan  jiwa kewirausahaan bagi petani muda dan meningkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam hal berwirausaha dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani.

 

Terkendala Rendahnya Pendidikan Petani

Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang harus dipenuhi untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia baik pola fikir maupun keterampilan serta pengetahuan petani. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka pola fikir dan wawasan akan bertambah sehingga lebih cepat dalam menerima dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tingkat pendidikan petani juga berpengaruh terhadap kegiatan usahatani yang dijalaninya sehingga memperoleh keuntungan yang maksimal. Sesuai yang dikatakan Soekartawi (1996) menyatakan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi relatif akan lebih cepat dalam mengadopsi suatu inovasi.

            Kenyataannya, sampai saat ini sektor pertanian Indonesia masih terkendala dengan masih rendahnya tingkat pendidikan para petaninya, mayoritas pendidikan mereka lulusan sekolah dasar, sehingga tak heran jika produksi pertaniannya kurang berdaya saing tinggi. Inilah momentum yang tepat untuk petani muda kita di mana banyak sarjana-sarjana pertanian yang tidak fokus kepada kegiatan-kegiatan pertanian contohnya pertanian hulu agar turun langsung menerapkan praktik-praktik pertanian yang didapatkan di kelas pada saat perkuliahan. Dengan semakin banyak dan antusiasnya pemuda kita untuk terjun ke sektor pertanian maka regenerasi itu berjalan dan yang utama adalah keberlanjutan dari apa yang telah digagas tersebut.

 

 

                                                                                                                                           Erwin Hairiarsa, SP., M.Sc.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gunung Rinjani

1 Comment
  • Tulisan yang menarik, salah satu yang menarik juga sebenarnya walaupun sarjana pertanian cukup banyak tetapi yang saya lihat teman-teman saya sarjana pertanian lebih memilih bekerja di Bank atau berharap menjadi pegawai setelah lulus. Sedangkan minat menjadi petani tidak tinggi. Tapi mungkin perlu kajian lebih dalam tentang hal ini, mungkin karena kepemilikan lahan atau karena pendapatan menjadi petani dipandang terlalu rendah untuk seorang sarjana. Bukankah ketika sarjana pertanian makin banyak yang bekerja langsung di industri pertanian maka perlahan-lahan akan membuat produksi pertanian menjadi lebih efektif, efisien dan produktivitas akan meningkat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *