Memaknai Globalisasi

Memaknai Globalisasi

Oleh Ahmad Efendi, M.Si

Dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram

 

Sesungguhnya dalam tataran akademis ada dua kubu yang sukar didamaikan dalam memandang globalisasi. Kubu pertama adalah kubu yang dapat dikatakan sebagai kubu optimis dalam memaknai dan memandang fenomena globalisasi. Kubu kedua merupakan kubu pesimis atau skeptis di mana mereka memaknai dan memandang globalisasi sebagai mitos artinya apapun nama yang diberikan pada intinya adalah dunia melanjutkan sebuah tradisi lama yaitu ide liberalisasi capital.

Pandangan pertama sepertinya banyak menemukan pembenaran jikalau memang optimis itu didasarkan pada keyakinan konsep liberalisasi. Kemajuan liberalisasi ide misalnya di mana kebebasan dan demokrasi hampir merebak keseluruh penjuru dunia. Tuntutan masyarakat luas di sebagian Negara-negara timur tengah sampai ke Negara-negara afrika utara untuk menumbangkan kekuasaan para penguasa otoriter adalah contoh yang paling mutakhirnya. Peran teknologi informasi (TI) di sini tidak dapat dianggap sebelah mata dalam rangka menyatukan ide, gagasan dan gerakan untuk sebuah tujuan yang diobsesikan.

Oleh karenanya hal ini tidak dapat dibendung lagi sebagai wadah sharing dan pada akhirnya dapat dipakai sebagai alat penekan kekuasaan seperti yang terjadi di beberapa Negara kawasan timur tengah dan Afrika. Misalnya ketika suasana masyarakat Mesir pelan-pelan bersatu menekan Hosni Mubarak maka pemerintah mengeluarkan kebijakan menutup akses internet begitu pula dengan presiden Khadafi maupun penguasa lainnya di kawasan tersebut ketika menghadapi gelombang tekanan dari rakyatnya.

Belum lagi perkembangan TI yang terus menambah produk fitur-fiturnya memungkinkan TI itu sendiri semakin memberi pengaruh kedalam ranah kehidupan individu-individu yang paling private. Fenomena ini tentu saja dapat disebut sebagai mempertinggi kualitas pengaruh TI. Jikalau beberapa waktu yang telah lalu internet hanya menawarkan surat elektronik saat ini ditambah dengan facebook, twiter dan lain sebagainya sudah tentu akan dapat semakin mempertajam pengaruhnya, di mana individu dapat dengan mudah mengekspos ruang-ruang yang paling pribadi sekalipun.

Pada aras ini globalisasi sebagai yang disebut oleh Manuel Castel sebagai era menjamurnya masyarakat jaringan (network society) semakin mendapatkan justifikasinya. Sekaligus fenomena ini menguatkan para pendukung globalisasi yang selama ini terkadang mendapatkan resistensi dari kubu yang memandang globalisasi sebagai “mitos” belaka. Justifikasi ini diperlukan sebagai modal social kaum hipergobalis dalam rangka terus melakukan propaganda global akan urgen dan perlunya liberalisasi dan kapitalisme yang menjadi tulang punggung globalisasi.

Jalan Ketiga

Mendamaikan dua kubu untuk memandang globalisasi sebagai entitas tunggal sepertinya bukan langkah mudah, tetapi niscaya akan selalu dihadapkan pada fragmentasi. Setidaknya ini berangkat dari perbedaan ideologi yang mendasarkan pandangan kedua kubu sulit bertemu. Misalnya ada istilah ideology kanan yang dinisbahkan pada kapitalisme dengan berbagai konsekuensinya dan ideology kiri yang dinisbahkan pada penentangnya yaitu ideology sosialis beserta turunannya.

Meskipun kedua kubu dalam tataran ideology tetap berbeda, namun demikian semuanya berhutang pada teknologi informasi (TI). Kedua ideology bahkan semua bentuk ide-ide yang pelan-pelan berkembang di aras kehidupan social-politik internasional juga memanfaatkan TI dalam rangka mengkomunikasikan diri kepada dunia. Dapat disebutkan TI merupakan komponen sentral dalam melayani semua penyebaran ide-ide.

Buktinya sangat terang di mana semua informasi yang menjadi maenstream global sampai informasi kontra maenstream dan seterusnya dapat dilacak sekaligus diunduh dengan mudah dan relative murah. Misalnya gerakan-gerakan radikal dalam rangka menghadapi dampak buruk globalisasi juga dapat menempatkan kampanye mereka setara dengan kampaye globalisasi-kapitalisme itu sendiri. Dengan demikian berbicara TI adalah berbicara globalisasi itu sendiri.

TI sebenarnya telah menyatukan semua ide-ide itu dalam rangka berlomba menemukan justifikasi dalam masyarakat global. Persoalannya adalah ide mana yang akan paling digemari oleh masyarakat global? Inilah pertanyaan yang mungkin benar ketika globalisasi sering dikacaukan dengan kapitalisme global. Bahwa gobalisasi adalah disemaikan oleh mengglobalnya kepentingan ekonomi kapitalisme memang ada benarnya tetapi seiring waktu berjalan semua dapat memanfaatkan TI untuk mengglobalkan ide –ide yang lain.

Inilah era perlombaan ide-ide yang paling mutakhir yang pernah dialami oleh ummat manusia. Memang perlombaan ideology telah menjadi cerita klasik namun era ini perlombaan itu lebih intens dan massif disebabkan oleh kemajuan TI itu sendiri. TI inilah yang penulis katakan sebagai jalan ketiga, di mana antara yang pro dan kontra terhadap globalisasi-kapitalisme dapat bersama-sama memanfaatkan TI untuk tampil ke muka public. Jalan ketiga ini memungkinkan semua ideology dapat mengkomunikasikan diri mereka dengan masyarakat luas minimal sebagai saluran ketika ada ide-ide yang termarginalkan oleh mengglobal dan mengguritanya kapitalisme sebagai ideologi.

 

Strategi Lokal

Lalu di mana letak masyarakat lokal dalam diskursus ini? Pertanyaan ini penting dalam rangka kemudian masyarakat lokal dapat mempetakan sekaligus membuat strategi guna dapat berperan aktif (menjadi actor yang aktif) dalam perhelatan global. Hal ini tidak dapat disepelekan atau dipandang sebelah mata karena bila hal itu terus diabaikan maka artinya masyarakat tidak akan menjadi pemain dan akan terus menjadi penonton. Konsekuensinya jelas masyarakat local akan tergilas, tertinggal dan paling jauh akan jadi pecundang, karena saat ini yang memenangkan skor sementara adalah para pengusung gobalisasi-kapitalisme itu sendiri.

Oleh karena itu peran aktif masyarakat dalam rangka terus-menerus mengkonsolidasikan dan sekaligus mengkampayekan semua potensi sumber daya yang ada merupakan cara untuk mengambil tempat dalam percaturan global. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah melalui berbagai saluran untuk mempromosikan semua sumber daya yang ada patut didukung dan diapresiasi tinggi-tinggi.. Promosi terus-m,enerus ini yang didukung oleh kebijakan-kebijakan riil yang berpihak pada pelestarian kekayaan budaya daerah dapat menjadi peretas jalan bagi masyarakat NTB untuk menjadi actor-aktor produktif dikancah nasional dan global. Hal ini juga harus sejalan dengan kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan masyarakat local lewat berbagai program pembangunan seperti program industri yang berbasiskan pertanian dan perkebunan yang telah di gagas oleh Bappeda provinsi baru-baru ini.

Artinya ada sinergi kebudayaan karena kebudayaan menurut Cllifort Geerts adalah keseluruhan cara pandang hidup suatu masyarakat. Hal ini berarti ketika promosi-promosi kebudayaan local berlangsung harus sejalan dengan tradisi produktivitas masyarakat yang mempunyai tradisi sebagai masyarakat petani dan peternak. Sedangkan dapat dikatakan yang terjadi selama ini adalah ketimpangan kebudayaan masyarakat. Di mana tradisi produktivitas masyarakat adalah bertani, berkebun dan beternak tetapi promosi kebudayaan poplah yang mendapatkan proporsi besar dalam hidup keseharian mereka yang mempengaruhi hidupnya dan perlahan kebudayaannya sendiri tererosi berganti kecenderungannya pada budaya pop-pragmatis.  

Menarik diperhatikan film kartun asal negeri jiran yaitu film serial Upin dan Ipin yang terlihat begitu menyatu dengan tradisi masyarakat melayu. Fenomena film serial Upin dan Ipin paling tidak telah berusaha memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa apa yang diaudiovisualkan tidak jauh berbeda dengan corak karakter masyarakatnya. Memang film itu masih hanya menggambarkan kehidupan seorang anak kecil tetapi ia telah memperlihatkan sebagian contoh dari kentalnya kebudayaan local (melayu) yang mestinya terus dikembangkan dan dipromosikan.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *