Memilih Calon Pemimpin Lombok Timur yang Ideal Pada Pilkada 2018

Memilih Calon Pemimpin Lombok Timur yang Ideal Pada Pilkada 2018

Oleh Dr. Saipul Hamdi

Direktur ADC dan Peneliti Sosial-Keagamaan

 

Lombok Timur termasuk salah satu daerah yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi Pilkada pada tahun 2018. Pilkada Lombok Timur tidak kalah menarik dari Pilkada di daerah-daerah lain melihat ketat dan kerasnya persaingan antar calon. Bahkan dalam beberapa catatan Pilkada Lotim, konflik dan kekerasan antara pendukung seringkali terjadi dalam proses dan pasca Pilkada. Pilkada Lotim tahun 2008 dan 2013 meperlihatkan gesekan antara pendukung yang dengan mudah terpovokasi melakukan kekerasan. Konflik internal NW masih mewarnai Pilkada 2018 dan menjadi bumbu-bumbu penyedap aroma persaingan dalam pesta demokrasi tersebut. Hal ini tidak dapat dihindari karena mayoritas basis massa NW berada di Lotim dan keterlibatan tokoh-tokoh NW dalam politik secara aktif membawa bendera NW ke ranah politik praktis. Meskipun NW dalam khittahnya tidak berafiliasi dengan partai politik, tetapi faktanya NW terpolarisasi berdasarakan identitas partai politik.

Pilkada 2018 masih cukup jauh, akan tetapi girah Pilkada di Lotim cukup tinggi. Beleho-baleho mulai bertebaran di pinggir jalan dengan visi yang beragam ingin membangun Lotim lebih baik. Perubahan perspektif tentang politik sebagai investasi yang berkelanjutan mendorong para calon untuk bergerilya lebih awal membangun komunikasi dengan masyarakat. Pola politik insidentil yang hanya datang pada saat kampanye menjelang Pilkada mulai kurang popular karena masyarakat semakin cerdas melihat calon yang sungguh-sungguh ingin membangun daerah. Masing-masing calon memanfaatkan jaringan sosial politik mereka. Jaringan organisasi sosial keagamaan sepertinya masih memainkan peran penting sebagai media kapitalisasi politik. Kapitalisasi agama melalui pengajian-pengajian masih menjadi trend politik umat Islam termasuk di NTB. Ketaatan dan kepasrahan jamaah yang dijanjikan surga oleh para tuan guru apabila memilih calonnya adalah modal besar dalam meraup suara.

 

Lotim Butuh Pemimpin “Gila” Untuk Perubahan

Ketika saya bersama Ali BD menghadiri undangan ke Ponpes Bagu Lombok Tengah, diskusi hangat di dalam mobil terus berlanjut sepanjang jalan hingga kami sampai di tempat acara. Ada satu kata yang saya ingat betul dari pak Ali bahwa memimpin Lotim itu tidak gampang. Tugas berat adalah menyatukan tokoh-tokoh dari berbagai Ormas Islam duduk bersama sharing peran sosial dan pengertian antara satu dengan yang lain di masyarakat. Ego masing-masing tokoh mengedepankan organisasi mereka dan menutup peluang yang lain untuk maju, apalagi perebutan massa dan pengaruh sosial akibat persaingan politik menempatkan Lotim sebagai daerah rawan dengan konflik dan kekerasan sosial.

Dengan penduduk terpadat di NTB 1. 153. 773 orang, Lotim mempunyai segudang masalah yang perlu pembenahan serius oleh pemerintah daerah. Pembangunan di Lotim menunjukkan grafik yang terus meningkat meskipun sedikit terlihat melambat. IPM Lotim di NTB juga cukup memperihatinkan yakni nomor 8 dari 10 Kabupaten di atas Loteng dan KLU. Gerakan pembangunan fisik dan non fisik oleh pemerintah tidak diiringi oleh kekuatan kelompok sivil society dan juga masyarakat secara umum. Lotim dikuasai oleh Ormas-ormas Islam beraliran konservatif yang lebih fokus pada politik oligarkis, penguasaan aset dan otoritas pemerintahan oleh sekelompok orang yang berada di dalamnya. Ormas Islam di Lotim baik NW, NU, Muhammadiyah, Salafi, Wahabi, Thariqah, dan Maraqitta’limat kurang maksimal memainkan perannya sebagai kelompok sivil society mencerdaskan umat dan mensejahterakan mereka secera ekonomi.

Ormas-ormas Islam lebih banyak konsen pada pemeliharaan doktrin agama melalui lembaga pendidikan dan pengajian yang diorganisasir secara massal. Pembelajaran teks tidak diimbangin dengan konteks dan praktik yang jelas sehingga menjadi doktrin suci yang mandul tidak mampu membantu umat menyelesaikan persoalan ril mereka di lapangan. Terbukti bahwa Ormas-ormas Islam secara ekonomi hanya memperkaya sekelompok orang dan mengakibatkan kemiskinan kultural secara tidak langsung di masyarakat. Selain tidak adanya program khusus pengembangan ekonomi ummat, doktrin amal dan pemborosan waktu dalam pengajian telah mengurangi produktifitas masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Sebagian tokoh-tokoh agama lebih mengedepankan ego dan status membangun pesantren dan masjid pribadi yang dananya amal dari masyarakat. Belum lagi isi khutbah dan ceramah yang menekankan hidup sederhana dan tidak penting mengejar harta banyak, tetapi amplop penceramah tidak boleh sedikiti isinya.

Beberapa persoalan lain di Lotim yang membutuhkan solusi kongkrit adalah kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, pemberdayaan pendidikan masyarakat, transportasi dan industri. Menurut data BPS trend kemiskinan di Lotim sangat fluktatif di angka 19.14% atau 219,270 (2013), 219,670 (2014), dan 222,190 (2015). Meskipun ada tanda tanya besar apakah masyarakat Lotim benar-benar miskin? Realitas sosial sangat paradok dan kontras misalnya kuota haji selalu penuh, jamaah yang umrah juga cukup banyak, masjid-masjid berdiri dengan megah, dan poligami terus meningkat. Jangan-jangan masyarakat Lotim pura-pura miskin.

Lapangan pekerjaan juga penting diperhatikan oleh Cabub Lotim ke depan sebagai salah satu langkah mengurangi tingkat kemiskinan. Sementara ini Malaysia adalah tumpuan warga NTB dan Lotim khususnya untuk bekerja mempertahankan kehidupan. Para TKI Indonesia dapat menyumbang devisa sekitar 100 T per tahun dan di NTB sekitar 120 M dan Lotim 50 M per tahun. Sampai kapan masyarakat Sasak menggantungkan hidupnya sebagai TKI dan TKW. Apa langkah kongkrit pemerintah provinsi dan daerah untuk mengatasi krisis lapangan pekerjaan ini. Terobosan-terobosan baru dari calon pemimpin ke depan sangat ditunggu oleh masyarakat NTB dan Lotim khususnya.

Masyarakat Lotim juga membutuhkan pemberdayaan pendidikan, selama ini mereka hanya sibuk mendengar pengajian tuan guru yang isinya terkait dengan agama. Kultur mendengar yang kuat tidak mendorong warga Sasak Lotim untuk membiasakan membaca sehingga wawasan mereka kurang berkembang, ditambah lagi materi yang monoton tidak dapat membantu mereka menyelesaikan persoalan yang ril mereka hadapi. Pengadaan bis Trans NTB atau Trans Lotim dapat menjadi solusi transportasi modern memudahkan warga kemana-mana dengan rute yang luas dan harga yang murah. Pola tempat tinggal yang ke dalam jauh dari perkotaan terkadang menjadi hambatan warga beraktivitas di luar secara luas.

Kurang berkembangnya dunia industri di NTB termasuk di Lotim memunculkan gap antara lembaga pendidikan dengan pasar kerja. Tidak banyak pilihan pekerjaan untuk angkatan muda NTB terutama bagi sarjana karena kekurangan perusahaan idsutri. Pemerintah daerah kurang maksimal dalam membangun kerja sama dengan para pemodal atau investor. Dari rangkaian persoalan inilah Lotim membutuhkan pemimpin yang “gila” dengan terobosan-terobosan baru yang esktrim untuk perubahan. Bukan saatnya lagi kita memilih atau bergantung pada tipe pemimpin yang gagah-gahan, minim kreatifitas, kurang peduli dengan kondisi masyarakat, dan tidak mampu melibatkan masyarakat secara terbuka dalam pembangunan. Istilah “gila” yang saya gunakan disini bukan berarti gila secara mental, tetapi orang yang berani dan berkomitment untuk melakukan terobosan-terobosan hebat demi kemajuan dan kesejahteraan warga.

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapa Calon Paling Berpeluang

Nama-nama calon telah bermunculan untuk Lotim 1, di antaranya adalah Samsul Lutfi, Lale Yaqut, Sukiman Azmi, Khairul Warisin, TGH. Hazmi Hamzar, Mahsun Ridwayni, Rumaksi, Nasrudin, dan Najamudin. Nama-nama tersebut adalah muka lama, yang memiliki pengalaman di birokrasi. Sayang sekali tidak ada nama-nama baru dari kalangan muda yang muncul sebagai calon alternatif. Dari segi kapabilitas masing-masing calon merata, tidak ada yang terlalu menonjol. Kondisi ini akan membawa persaingan yang sengit dalam pemaparan visi dan misi serta program-program unggulan membangun Lotim lima tahun ke depan.

Dari segi perolehan suara, kekuatan dari masing-masing calon bisa diraba melalui representasi massa organisasi yang mereka berafiliasi. Pada Pilkada 2008 calon dari NW menyapu kemenangan di Lotim dan NTB, pada waktu itu pasangan Sufi mengalahkan pasangan Al-Gaf. Sedangkan pada Pilkada 2013 Ali BD yang maju kembali dengan paket Al-Khair dapat memenangkan Pilkada mengalahkan calon dari NW yakni Sufi (NW Pancor) dan Wali (NW Anjani). Peta kekuatan politik Pilkada 2013 tidak bisa dijadikan gambaran utuh dalam Pilkada 2018, apalagi paket Sufi jilid III sangat mustahil direalisasikan. Koalisi Sufi dipastikan bubar dan masing-masing maju pada Pilkada 2018 untuk saling berhadapan.

Bicara basis massa ril, calon dari NW memiliki modal lebih dibanding calon-calon lain. Apalagi Lutfi dan Yaqut adalah keturunan langsung Maulana membuat peluang mereka untuk menang lebih besar. Apabila keduanya berpasangan, maka sulit bagi calon lain untuk menandingi suara mereka. Paket Lutfi-Yaqut kemungkinan besar akan menang karena adanya kekuatan faktor internal, di mana pintu Pilkada menjadi pintu islah NW. Islah dapat menjadi kekuatan yang signifikan untuk menyatukan suara yang berserakan dan warga NW di level grass root mendambakan bersatunya NW kembali. Mayoritas pemilih NW adalah pemilih sosiologis, sebagian kecil pemilih rasional.

Jika calon NW terpisah dan masing-masing mencalonkan diri memberikan peluang bagi calon lain. Kekuatan politik akan lebih merata karena masing-masing calon mencari pendamping dari luar NW. Koalisi NW dan Maraqitta’limat (Lutfi-Hazmi) menjadi kekuatan baru yang bisa dijual pada Pilkada Lotim 2018. Di luar kekuatan massa Ormas, ikatan kekeluargaan menjadi faktor penting dalam perolehan suara di Pilkada. Politik kedaerahan juga memainkan peran fundamental dalam menarik simpati warga. Desa atau kecamatan asal dari calon dapat dikapitalisasi sebagai kekuatan politik. Koalisi calon dari daerah Selatan dengan Utara, atau Timur dengan Barat dapat menambah perolehan suara calon secara signifikan. Sedangkan koalisi partai tidak menjamin calon meraih kesuksesan karena yang memilih langsung adalah rakyat.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *