Produk Lokal, Menghadapi MEA

Ahmad Efendi, M.Si

Dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram

Pasar bebas ASEAN atau yang disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) kini telah hadir. Masyarakat dapat dengan mudah memperjual –belikan produk mereka dan sebaliknya masyrakat ASEAN lainya dapat dengan mudah pula memasukkan komoditasnya ke pasar dalam negeri. Artinya MEA adalah kesempatan sekaligus  tantangan baru bagi pelaku pasar tidak terkecuali bagi produk-produk lokal NTB.  Kesempatan dan tantangan yang kini hadir harus dihadapi dengan strategi yang  jitu agar masyarakat  dapat menjadi pemenang atau minimal dapat berpartisipasi secara positif. Namun jikalau  tidak ada strategi yang jitu dikhawatirkan masyarakat hanya akan menjadi pecundang dan menelan kekalahan. Oleh karena itu menurut penulis strategi jitu itu harus dijalankan guna masyarakat dapat berpartisipasi sekaligus untuk menjadi pemenang.

Selama ini pemerintah terus-menerus berupaya dalam rangka membangun kekuatan produksi lokal seperti pemberian bantuan (stimulus) pendanaan  dan pelatihan bagi UMKM-UMKM yang ada. Diharapkan dengan demikian UMKM_UMKM yang ada di NTB dapat meningkatkan daya kreatifitas sekaligus daya saingnya. Namun demikian  belum nampak adanya produk-produk lokal yang menjadi komoditas  UMKM menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar komoditas atau produk-produk lokal itu bisa menjadi tuan di rumahnya sendiri? Pertanyaan ini mungkin juga menjadi pertanyaan masyarakat luas dan pemerintah sendiri, sehingga penulis akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Tujuannya adalah menggugah  semua pihak agar mempunyai visi atau gerak langkah yang relatif sama untuk mewujudkan produk-produk lokal menjadi tuan di rumah sendiri.

Untuk produk lokal menjadi tuan di rumahnya sendiri sekaligus mampu menjadi produk yang bersaing satu kata kunci adalah dengan men-setting produk lokal itu  menjadi idola bagi warga lokal itu sendiri. Oleh karenanya diperlukan terobosan yang sedikit berbeda. Maksudnya adalah bagaimana produk-produk lokal itu juga bisa masuk dalam media-media nasional seperti TV-TV dengan iklan-iklannya yang memukau.

Contoh kecil misalnya jajan (kue) lumpur yang katanya itu adalah kue lokal berbahan baku kentang dan walu. Jika anda belum mencicipi maka cobalah cari dan rasakan betapa dahsyat rasanya. Kue ini tidak kalah rasanya dengan kue-kue yang sudah terkenal bahkan mendunia. Masih banyak lagi kue-kue lain berbahan baku lokal. Bilamana ada terobosan untuk menjadikannya sebagai idola lokal sekaligus menjadi jalannya untuk dapat bersaing di pasar MEA  sungguh sesuatu yang sangat mungkin dilakukan.

Berani Action

Saatnya memang terobosan itu dilakukan. produk-produk lokal harus masuk dalam arena utama (maenstream) pasar. Salah satu caranya adalah dengan berani memvisualisasi produk-produk itu ke dalam dunia visual. Produk-produk lokal olahan UMKM itu harus masuk media massa minimal media masa cetak jika tidak bisa masuk media massa elektronik (TV).

Landasanya jelas di mana  dunia kini telah jauh bertransformasi dengan TI sebagai pemicunya maka harus disadari bahwa dunia ini telah menyempit menjadi dunia yang hanya dibatasi sekat-sekat maya. Sejalan dengan itu konsep simulacra mengalami deferensiasi yang luar biasa massif. Inilah yang menjadi inspirasi bagi pelaku pasar. Bahwa produk jikalau telah menembus batas-batas maya lalu kemudian yang menjadi icon pemicunya adalah para aktor drama maka selanjutnya deferensiasi sosial yang luas sekali menjadi tidak sulit dibayangkan.

Lihat saja bagaimana produk-produk yang telah berhasil menyihir masyarakat Indonesia ditingkat nasional misalnya. Sebutlah produk sosis di mana produk ini bahan bakunya mudah didapatkan, namun karena didukung oleh strategi visualisasi ia  mampu melekatkan brandnya pada ratusan juta penduduk indonesia. Lalu lahirlah kata-kata dibenak  jutaan masyarakat “jika mau makan daging dengan rasa ayam atau sapi cukup merogoh kocek 1000 rupiah”.

Nah cara-cara seperti ini mutlak diperlukan agar produk lokal bisa diharapkan punya gigi. Setidaknya di pasar lokal lebih dahulu. Alasanya jelas, jikalau masyrakat lokal bangga dengan produk lokalnya sendiri otomatis kebanggaan itu akan menjadi panggung sosialisasi yang sangat strategis bagi produk lokal itu sendiri. Produk-produk lokal itu akan menjadi konsumsi luas masyarakat sehingga dengan sendirinya orang-orang luar yang datang ke NTB langsung menyaksikan apa yang menjadi kebanggaan (konsumsi) masyarakat.

Seolah hendak dikatakan bahwa ingat kue maka ingat pada kue lumpur jikalau konsisten dengan salah satu contoh produk lokal yang sempat disinggung terdahulu. Begitu pula berlaku bagi produk-produk lokal lainnya. Bahwa diperlukan terobosan baru dalam rangka melakukan sosialisasi pasar untuk dapat mnejadi pemenang. Jika tidak berani action maka produk-produk lokal secara tidak langsung terus terpinggirkan.

Strategi terkini

Di level masyarakat saat ini produk-produk lokal harus bergerak bersama-sama untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Salah satu yang belum maksimal dilakukan adalah sosialisasi dan seminar produk-produk lokal di sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi (PT). Dengan produk-produk lokal itu disosialisasikan dan diseminarkan otomatis sebagai cara jangka pendek untuk bertindak di awal –awal pemberlakuan MEA.

Sosialisasi yang dibarengi dengan seminar diyakini akan mampu mwngubah mind setting masyrakat luas terutama pelajar dan Mahasiswa. Bahwa dengan mengkonsumsi produk-produk lokal artinya masyarakat lokal itu sendiri telah membangun pondasi atau rantai perekonomian yang handal bagi pembangunan masyrakat itu sendiri secara luas. Harus disadari bahwa investasi di dalam negeri harus dapat ditingkatkan tidak hanya dilakukan oleh orang luar, namun juga harus dilakukan oleh masyrakat lokal sendiri.

Ada perbedaan yang signifikan dengan investasi yang dilakukan oleh jaringan investor luar dengan investasi yang dilakukan oleh kalangan pribumi sendiri. Ini yang sering diutarakan oleh salah seorang ekonom strukturalis seperti Sri Tua Arief dkk. Jika investor luar saja yang memenuhi investasi dalam negeri maka logikanya memperkuat drajat struktur perekonomian luar dan sebaliknya jikalau investor dalam negeri banyak dilakoni oleh aktor-aktor pribumi maka artinya secara tidak langsung meperkuat struktur pembangunan ekonomi masyrakat lokal secara luas. Ini dikarenakan setiap investasi akan ada efek berantai yang ditimbulkannya.

Untuk tujuan itu maka produk-produk lokal di samping harus bergerak intensif melakukan sosialisasi kepada masyarakat mereka juga harus bisa membuat jaringan yang kuat agar mampu menjadi kekuatan penekan (pressure group) guna pemerintah dapat memfasilitasi sosialisasi itu sendiri. Jikalau semua langkah strategis di atas bisa berjalan diyakini produk-produk lokal bisa menjadi tuan di rumahnya sendiri sehingga otomatis menjadi brand yang kuat bagi masyarakat luar di era MEA ini. Oleh karenanya langkah-langkah strategis itu harus diwujudkan agar produk-produk lokal Bisa! 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *