Potret Perempuan Sasak: Migrasi Perempuan Sasak, Pernikahan Dini dan Legitimasi Kekerasan Simbolik terhadap Perempuan dalam Budaya Sasak

 Potret Perempuan Sasak: Migrasi Perempuan Sasak, Pernikahan Dini dan Legitimasi Kekerasan Simbolik terhadap Perempuan dalam Budaya Sasak

Oleh Dr. Saipul Hamdi

Direktur ADC & Peneliti Sosial-Keagamaan

 

Tidak terasa peringatan hari Kartini tahun 2017 adalah peringatan yang ke 138. Tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya peringatan hari Kartini selalu meriah. Masyarakat dari masing-masing daerah dengan berbagai latar belakang suku dan agama mengucapkan selamat atas perayaan “Hari Kartini”. Namun ada pertanyaan-pertanyaan dasar terbesit terkait dengan peringatan hari Kartini, apakah nilai perjuangan Kartini telah terintegrasi dan terinternalisasi ke dalam jiwa perempuan-perempuan Nusantara termasuk perempuan di Lombok Nusa Tenggara Barat dan sejauhmana dampak perjuangan Kartini terhadap nasib kaum perempuan tersebut. Dalam tulisan ini, saya fokus melihat potret kaum perempuan Sasak yang membutuhkan waktu panjang dan upaya kuat dalam prsoes dekonstruksi dan rekonstruksi gender dalam budaya Sasak.

Berbicara perempuan Sasak seakan tidak ada habisnya dan sangat menarik sebagai objek penelitian sosial. Walapun saya tidak pernah meneliti secara khusus tentang perempuan Sasak, tetapi saya lahir dari rahim perempuan Sasak, tumbuh besar dan menyaksikan kehidupan perempuan Sasak baik di desa tempat kelahiran saya di Lombok Timur maupun di desa-desa lainnya. Konstruksi budaya Sasak memiliki pengaruh besar terhadap identitas gender perempuan Sasak yang membuatnya berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Tidak hanya persoalan rasa yang berbeda, tetapi juga prilaku sosial perempuan Sasak yang tidak bisa ditemukan dan ditiru pada komunitas lain.

Perempuan Sasak tidak pernah berhenti menegosiasikan identitas gender dan upaya rekonstruksi kebudayaan Sasak yang menempatkan mereka pada dua sisi yang saling berlawanan. Pada satu sisi perempuan Sasak berada pada titik subordinat sangat terkungkung dalam kekuatan simbolik kebudayaan, dan disisi lain mempunyai bebasan yang tidak semestinya. Lebih dari 3,5 abad perempuan Sasak mengalami keterkungkungan budaya yang disebabkan oleh banyak faktor, bahkan budaya Sasak melegitimasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan Sasak di ruang-ruang sosial tertentu. Perlawanan perempuan Sasak dalam keterkungkungan inilah menjadi titik balik kebebasan yang diraih dalam perjuangan selama ini. Di tengah keterpurukan ekonomi, perempuan Sasak menunjukkan identitas keprempuanannya yang berani keluar dari himpitan kultural yang mengekang dirinya.

 

 

 

 

 

 

 

Pengekangan Kultural dan Migrasi Perempuan Sasak

Perempuan Sasak dalam konstruksi kebudayaan adalah perempuan-perempuan yang dihormati, dimuliakan, dipuja dan dijaga secara ketat pergaulan dan akhlaknya. Apalagi perempuan dari kalangan menak dipingit secara berlebihan tidak boleh membangun hubungan spesial bahkan pernikahan dengan kelompok di bawahnya. Konstruksi kebudayaan ini menempatkan perempuan pada posisi yang “holistik”, tidak boleh bekerja, tidak boleh bergaul luas, tidak boleh berseberangan dengan orang tua dan harus taat pada norma adat. Pada sisi lain, laki-laki harus bertanggung jawab penuh atas kebutuhan perempuan sejak malam dicuri, lebih-lebih setelah berumah tangga menjadi tanggung jawab penuh suami. Perubahan sosial, politik dan ekonomi di Indonesia berpengaruh besar terhadap perubahan konstruksi gender tersebut. Perempuan Sasak yang beradab-abad telah nyaman dengan posisinya yang holistik harus beradaptasi dengan tantangan baru akibat perubahan sosial yang terjadi.

Konstruksi gender yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan dengan dukungan budaya patriarki tidak selalu menguntungkan laki-laki ketika terjadi perubahan sosial dan politik seperti yag disebutkan di atas. Laki-laki juga dirugikan dalam konstruksi budaya tersebut misalnya ketika laki-laki tidak mampu menjadi suami yan bertanggung jawab terhadap kebutuhan istri, anak-anak dan keluarganya. Tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup dari pihak swasta dan pemerintah dan persaingan yang terbuka dengan kaum perempuan membuat segala sesuatunya lebih sulit bagi laki-laki. Sedangkan perempuan Sasak sendiri kebanyakan belum siap bersaing karena faktor SDM, di tambah lagi dengan ketidakmampuan dan keterbatsan suaminya memiliki dampak yang signifikan terhadap nasib keluarga mereka. Kasus di Lombok menjadi salah satu contoh betapa ketidaksiapan laki-laki dan perempuan dalam menghadapi perubahan sosial dan politik di Indonesia.

Tekanan ekonomi yang hebat melanda bangsa Indonesia pada 1997 berdampak luas di daerah termasuk daerah NTB. Pada masa reformasi kondisi ekonomi tidak tumbuh lebih baik meskipun pilihan-pilihan pekerjaan semakin banyak. Menurut catatan BPS NTB bahwa kemiskinan di NTB pada tahun 2002 mencapai 27. 24%. Persoalan ekonomi inilah yang mendorong migrasi besar-besaran ke luar negeri untuk bekerja. Sebagian besar masyarakat NTB menjadi tenaga kerja buruh tani di Malaysia, Arab Saudi, Brunei, Taiwan dan Korea. NTB menjadi daerah pengirim TKI terbesar ke Malaysia setelah Jawa Timur mencapai 47.000 orang tahun 2014, 35.000 orang 2015 dan 18.000 orang pada tahun 2016. Sebagian besar dari mereka bekerja di perkembunan kelapa sawit dan karet. Malaysia adalah kampung kedua bagi masyarakat Sasak, tempat mereka mengadu nasib dan bertahan hidup menopang ekonomi keluarga. Bayangkan jika Malaysia tidak ada, apa jadinya warga Sasak dan bagaimana mereka dan keluarganya mampu survive di tengah persaingan pasar kerja yang ketat, sedangkan skil dan SDM mereka sangat terbatas. Sebagian TKI berhasil di Malaysia, dan sebagian juga gagal dengan cerita yang mengenaskan. Jangankan kirim uang kepada keluarga di rumah, surat dan kabar saja tidak pernah ada. Para istri hanya sabar menunggu kedatangan suaminya yang digelari “Bang Tayyib” karena tidak pulang-pulang, dan ujung-ujungnya mendapat status “Jamal” atau janda Malaysia.

Meskipun mengalami trend penurunan jumlah TKI NTB ke Malaysia, namun itu lebih disebabkan karena pemutihan oleh pemerintah Malaysia. Setiap tahun 2.000 TKI asal Lombok mengalami deportasi oleh pemerintah Malaysia. Kondisi ini tentunya mengancam stabilitas ekonomi NTB dan ekonomi keluarga TKI yang tidak lagi bisa kembali bekerja ke Malaysia. Kehidupan istri yang ditinggal ke Malaysia menjadi penggalan cerita kesedihan yang tidak ada habisnya. Selain status Jamal, para istri juga kesulitan membesarkan anak-anak mereka karena tidak terbiasa bekerja. Budaya Sasak yang tidak memberi ruang luas kepada perempuan bekerja di luar rumah tidak mampu berbuat banyak dengan kondisi ini khususnya membesarkan anak-anak mereka. Sebagian malu bekerja di luar rumah karena tekanan dan image masyarakat yang negatif dan kolot melihat perempuan bekerja. Perempuan-perempuan Sasak yang tinggal di pedesaan harus berhijrah ke kota untuk mencari pekerjaan terutama mereka yang merasakan bangku kuliah. Sedangkan yang tidak kuliah memilih untuk menjadi TKW di luar negeri bekerja di sektor rumah tangga sebagai pembantu.

Fenomena TKW asal Lombok adalah potret buruk kaum perempuan Sasak yang kontras dengan tradisi dan budaya kerja di lingkungan budaya Sasak yang tidak membolehkan perempuan bekerja di luar rumah. Gerakan perempuan menjadi TKW merupakan symbol perlawanan mereka atas tekanan budaya tersebut yang kurang memberikan ruang bagi mereka untuk bekerja dan dominasi budaya pateriarki yang kuat. Perempuan Sasak justeru menemukan kebebasan dan kemerdekaanya di negara oran lain meskipun mereka dalam bahaya dengan persoalan adat, bahasa dan seksualitas masyarakat di sana. Bukan rahasia umum para TKW seringkali jadi korban oleh majikannya. Dengan kata lain perempuan Sasak memilih sebagai TKW tidak hanya karena faktor tekanan ekonomi keluarga, tetapi juga karena ingin bebas dari kungkungan budaya Sasak yang misoginis. Setalah menjadi TKW mereka menghadapi problem baru di kampung masing-masing karena perubahan sikap dan life style baru yang dibawa kontras dengan tradisi masyarakat asal. Kondisi inilah yang membuat mereka tidak betah di kampung dan kembali lagi ke luar negeri untuk bekerja menambah modal.

Pernikahan Dini: Antara Kebebasan dan Kekerasan Simbolik

Salah satu kebebasan yang dimiliki perempuan Sasak ketika masih lajang adalah bebas “pacaran” memilih laki-laki yang akan menjadi calon suaminya. Tradisi midang di pedesaan menunjukkan betapa perempuan memilik otoritas dan kekuasaan untuk menentukan siapa yang akan menjadi pilihan terakhirnya pada saat menikah. Walaupun sudah punya pacar, perempuan Sasak masih membuka pintu rumahnya bagi taruna yang lain. Bahkan dalam satu malam ada tiga sampai lima taruna yang berjejer duduk bersamaan di terasnya dan bergantian berbicara merayu dirinya. Pacarnyapun ikut duduk bersama taruna lain mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Di sinilah kemerdekaan perempuan Sasak sebelum menikah, tidak ada ikatan yang absolut bagi mereka sebelum mengucapkan akad nikad.

Kebebasan perempuan Sasak sebelum menikah tidak akan bertahan lama setelah menikah, suami mengambil alih kemerdekaan itu dengan mendominasi seksualitas mereka dan memimpin jalannya rumah tangga. Saya tidak mengeneralisir bahwa perempuan Sasak menghadapi pengalaman yang sama, tetapi sebagian besar perempuan Sasak menyerahkan hidup matinya kepada suami dan tidak pernah berpikir untuk bercerai atau menikah lagi. Kontestasi yang ketat antara taruna di dalam proses perkawinan menempatkan perempuan hanya sebagai objek rebutan. Tradisi kawin lari memberikan ruang legitimasi kekerasan terhadap perempuan, meskipun perempuan tidak suka atau tidak mau menikah, dengan legitimasi adat laki-laki boleh memaksa perempuan dengan melarikannya ke tempat persembunyian. Budaya Kawin lari “merarik” dalam tradisi Sasak pada awalnya memiliki tujuan mulia, namun akhir-akhir ini banyak disalahgunakan dan dipolitisir oleh laki-laki sehingga merugikan kaum perempuan. Selama dalam persembunyiaan “nyebok” perempuan Sasak sulit untuk kembali karena diisolir dalam penjara adat, meskipun dia tidak setuju menikah. Saya melihat terjadinya kekerasan simbolik budaya Sasak dalam praktik kawin lari terhadap kaum perempuan. Tabu bagi perempuan untuk kembali setelah dilarikan dan disembunyikan. Istilah “merarik urung” mempunyai konotasi negatif terhadap kaum perempuan. Perempuan biasanya disalahkan, mendapat cemohan, hinaan dan omongan dari masyarakat.

Tradisi kawin lari juga salah satu pendorong terjadinya pernikahan dini di kalangan masyarakat Sasak. Meskipun banyak faktor yang mendorong pernikahan dini, akan tetapi tradisi kawin lari yang tidak terkontrol dan tidak harus memberi tahu orang tua terlebih dahulu merupakan sebuah peluang untuk terjadinya pernikahan dini. Pemuda-pemuda Sasak kapanpun bisa menikah bahkan di usia yang relatif muda. Menurut data BKKBN NTB angka pernikahan dini di NTB mencapai 58. 1% dengan tingkat perceraian 21.55%. Setidaknya terdapat lima faktor pendorong terjadinya pernikahan dini, pertama, faktor tradisi dan budaya kawin lari. Kawin lari yang tidak membolehkan adanya komunikasi dari pihak keluarga laki-laki dengan perempuan membuat laki-laki leluasa untuk begerak melakukan aktivitas pencurian kapanpun dan dimanapun apabila ada kesempatan.

Kedua, tekanan ekonomi keluarga perempuan. Sebagian besar orang tua dari pihak perempuan menginginkan anaknya segera menikah supaya tidak menjadi beban keluarga. Jika sudah menikah seluruh kebutuhan perempuan akan menjadi tanggung jawab suaminya dan keluarga laki-laki. Muncul trend baru orang tua Sasak menginginkan anaknya segera dicuri dan dari hasil pernikahan tersebut keluarga perempuan mendapat bayaran tebusan uang adat. Uang pesuka akan masuk kantong orang tua dan keluarga perempuan, sedangkan uang lamaran khusus untuk pengantin. Ketiga, kurangnya pendidikan seks di kalangan remaja. Seks adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dalam kultur keIndonesiaan dan juga keSasakan khususnya di lingkungan keluarga. Orang tua tidak berani membicarakan persoalan seks, apalagi mendiskusikannya dengan anak-anak. Dampaknya, anak-anak Sasak memproleh pelajaran dan pendidikan seksualitas di luar institusi keluarga seperti dari internet, majalah dewasa dan film-film porno. Jika terdapat pendidikan seks bagi remaja dalam arti yang lebih luas dari keluarga, maka akan dapat menekan pernikahan dini karena adanya kesadaran akan pilihan-pilihan yang lain. Keempat, kurangnya ketersediaan lapangan kerja bagi anak-anak remaja. Menurut guberur NTB, Zainul Majdi bahwa angka pengangguran terbuka di NTB tahun 2014 mencapai 5.75% atau 127.710 orang, meningkat dari tahun 2013 yang hanya 5.30%. Masa depan yang tidak jelas inilah mendorong pemuda-pemuda Sasak nekat menikah dini. Kelima, doktrin agama yang mengajarkan banyak anak-banyak rezeki. Doktrin ini secara tidak langsung mendorong laki-laki dan perempuan Muslim untuk menikah lebih awal supaya mendapat momongan lebih banyak. Persoalan pekerjaan dan kemapanan ekonomi nomor tiga, yang penting menikah dan punya anak.

Kota Seribu Janda dan Budaya Perceraian Sirri

Lombok tidak hanya dikenal dengan sebutan kota seribu masjid, tetapi juga seribu maling dan yang terbaru adalah “seribu janda”. Ungkapan ini tidak berlihan melihat potret kehidupan masyarakat Sasak dan tantangan sosial yang mereka hadapi khususnya problem perceraian yang begitu ekstrim. Menurut data BKKBN NTB, provinsi NTB menempati urutan keempat tingkat pecerceraian tertinggi nasional setelah Sumatera Uatra 25.11%, Aceh 23.07%, Sulawesi Selatan 21.81% dan NTB 21.60%. Angka 21.60% atau 308.957 ribu janda bukanlah angka yang sedikit, NTB masuk dalam kategori darurat perceraian yang membutuhkan langkah konkrit solusi dari pemerintah, tokoh masyarakat dan agama. Fenomena perceraian ini sangat ironis dan berlawanan dengan ajaran teks agama Islam yang tidak mendukung perceraian manusia. Gap begitu besar antara teks dengan kontek antara ajaran dengan realitas sosial di masyarakat Sasak, di satu sisi dikenal religious, tetapi di sisi lain suka bercerai.

Antropolog dari Swedia Sven Cederroth mengatakan bahwa maraknya percerain di Lombok karena pengaruh Islam yang memudahkan dan memurahkan proses dan biaya pernikahan. Dalam tradisi Sasak yang asli, biaya pernikahan cukup tinggi terutama kelompok bangsawan sehingga perceraianpun jarang terjadi karena biaya mahal tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan perceraian di Lombok termasuk faktor agama dan kemiskinan yang menimpa warga Sasak. Setidaknya terdapat beberapa faktor baik internal dan eksternal yang menyebabkan perceraian di Lombok yaitu pertama, ketidaksiapan mental pasangan suami istri sebelum menikah. Pernikahan dini adalah fenomena yang tidak terbantahkan di Lombok, kedua pasangan kurang matang secara material dan seksual dalam membangun rumah tangga. Ketika terjadi badai rumah tangga, kedua pasangan tidak berpikir panjang dan denga mudah memutuskan pisah ranjang.

Kedua, kultur poligami dalam budaya Sasak. Poligami di Lombok lebih culturally constructed daripada religiously constructed karena sarat poligami warga Sasak tidak sesuai dengan aturan agama yang menuntut mampu secara material dan berlaku adil. Warga Sasak berpoligami bukan karena kelebihan materi, tetapi karena gensi dan pengakuan status sosial dari masyarakat Sasak yang lain. Selain itu, mereka mempraktikkan ilmu santet atau sengeger yang dimilikinya untuk menggaet perempuan. Saya pernah bertemu dengan kakek-kakek tua yang tinggal di rumah reot di daerah Pemongkong Jerowaru dengan tiga istrinya. Saya tarik napas dan bertanya bagaimana beliau bisa berpoligami dengan kondisi kemiskinan dan fisik yang sudah tua. Dalam konteks lain poligami seringkali berujung pada perceraian, dan inilah yang banyak terjadi di Lombok. Ketiga, besarnya arus migrasi ke Malaysia sebagai TKI. Sebagian TKI memutuskan menikah lagi di Malaysia dan sebagian lagi meninggal mati. Banyak dari istri TKI memutuskan tuntutan cerai kepada suaminya di pengadilan karena tidak tahan sendirian selama dua tahun. Walaupun tetap menerika cek dari suaminya, tetapi “cok” tidak pernah bisa terkirim dan tergantikan.

Keempat, perempuan Sasak tidak bisa mempertahankan kecantikan seperti pada masa lajangnya. Setelah menikah perbedaan besar terjadi, khususnya pasca melahirkan dan memelihara anak di mana perempuan Sasak tidak lagi merawat dan peduli dengan dirinya. Tidak ada waktu bagi perempuan Sasak untuk berdandan dan berpenampilan menarik karena statusnya sudah berubah menjadi ibu rumah tangga. Kesehariannyapun lebih banyak di rumah menggendong anak dan melayani suami. Suami yang tidak kuat imannya kurang tertarik lagi dengan istrinya yang tidak merawat diri, kemudian melirik perempuan lain dan bercerai dengan istrinya. Setelah berstatus janda perempuan Sasak kemudian giat menata dan merawat diri kembali. Kelima, kuatnya intervensi keluarga pihak laki-laki. Pasangan suami-istri dalam kultur Sasak setelah menikah memilih tinggal di rumah suaminya. Tidak banyak pengantin tinggal di rumah pihak perempuan karena image negative. Istilah “nurut” ngikut merupakan istilah yang digunakan untuk suami yang ikut di rumah keluarga istri yang maknanya tidak madiri, laki-laki lemah, dan numpang sama mertua. Kondisi ini bagus buat istri lebih baik tinggal di rumah keluarganya dari pada numpang bersama mertua, di mana tekanan dan intervensi keluarga begitu besar. Apabila bermasalah dengan mertua maka tidak sungkan-sungkan mertua memerintakan anakanya untuk nikah lagi. Ujung-ujungnya perceraian yang terjadi di antara mereka dan kasus ini cukup popler di Lombok.

Keenam, budaya cerai sirri dalam tradisi orang Sasak. Cerai di satu sisi adalah perbuatan negatif yang kurang dihormati oleh bangsa Sasak, akan tetapi faktanya perceraian terus meningkat. Untuk menghindari image publik kebanyakan orang Sasak becerai secara diam-diam atau sirri. Cukup dengan kata “beseang” pasangan suami-istri langsung bercerai, perempuan harus kembali ke rumah orangtuanya dengan cukup membawa barang pecah belah. Sedangkan rumah dan tanah biasanya bagian suami. Tidak adanya proses perceraian di pengadilan membuat payung hukum keadilan bagi istri tidak kuat. Mereka tidak dapat menuntut harta gono gini yang adil begitu juga tanggung jawab suami memelihara anak yang seringkali terabaikan. Banyak kasus aanak-anak diserahkan kepada istri dan lepas dari tanggung jawab suami.

Perjuangan perempuan Sasak begitu berat dan butuh dukungan dari semua pihak terutama pemerintah. Nilai-nilai perjuangan Kartini belum terintegrasi secara utuh, bakan banyak kartini-kartini Sasak yang belum tercerahkan. Pendidikan dan pelatihan gender tidak cukup hanya untuk perempuan, tetapi juga laki-laki. Tidak akan efektif bila hanya perempuan yang berubah perspektifnya, sedangkan laki-laki masih dalam konstruksi lama. Kawin lari tidak lagi sebagai pilihan absolut melihat adanya peluang legitimasi kekerasan bagi perempuan Sasak. Sistem laraman yang mulai berkembang di beberapa desa lebih realitis dalam kontesk masyarakat modern karena melibatkan komunikasi dan koordinasi dengan orang tua dan keluarga yang lain sebelum dan dalam proses pernikahan. Begitu juga dengan pendidikan seks penting bagi masyarakat Sasak supaya ada pilihan-pilihan seksualitas yang sehat baik bagi laki-laki dan perempuan. Kungkungan budaya Sasak yang membatasi langkah dan gerak perempuan untuk mandiri tidak lagi relevan dengan tantangan dan perubahan sosial yang menuntut perempuan untuk lebih aktif dan emansipatif. Apalagi kaum laki-laki Sasak tidak lagi mampu berjuang sendirian dalam dominasi budaya patriarki karena persaingan yang ketat dan keterbukaan askes yang ekual antara kaum laki-laki dan perempuan. Budaya patriarki tidak hanya merugikan kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki karena beban sosial yang begitu berat. Hanya kemandirian yang dapat menyelamatkan perempuan Sasak, dan itu harus dari inisiatif mereka bukan dari kaum laki-laki.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *