Deradikalisasi, Pesantren dan Peace Studies

Gerakan radikalisme dan terorisme telah melanda bangsa Indonesia dan terus menguat pasca reformasi. Kasus bom Bali 2002 dan bom Sarinah 2016 menunjukkan bahwa radikalisme dan terorisme tidak pernah mati dan akan terus tumbuh dengan pola dan pendekatan yang berbeda-beda. Radikalisme dan terorisme menyebar lintas agama, lintas Ormas dan lintas gender, tidak hanya melibatkan kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan. Kasus calon pengatin perempuan yang siap melakukan bom bunuh diri Dian Yuli Novi jaringan Bahrun Naim adalah bukti bahwa terorisme telah menyasar perempuan dan masuk lintas gender. Upaya pemerintah dan masyarakat untuk melawan aksi terorisme dan upaya deradikalisasi penting untuk diteliti lebih jauh. Upaya-upaya ini harus mendapat dukungan melalui kampanye dan publikasi yang massif baik dalam bentuk buku, artikel jurnal atau majalah. Dengan demikian masyarakat memiliki akses terhadap informasi tersebut dan dapat memilih mana yang terbaik dan positif buat mereka di tengah kencangnya upaya radikalisasi dan terorisasi. 

Sebagai lembaga pendidikan keIslaman, pesantren memainkan peran penting dalam proses deradikalisasi dan counter terorisme dengan menawarkan pembelajaran Islam yang inklusif dan reformatif. Munculnya pesantren-pesantren baru beraliran garis keras mengajarkan ideologi takfirisme, syirik, bidah, radikal dan teroris adalah tantangan baru dalam dunia pendidikan pesantren karena telah keluar dari wajah asli pesantren. Pesantren akhir-akhir ini diklaim menjadi sarang terorisme dan radikalisme oleh negara-negara Barat, tempat “cuci otak” jamaah menjadi calon pengantin. Jika pesantren tidak mampu kembali ke visi dan misi awal mengembakan Islam “rahmatan lil alamin”, maka klaim dan asumsi-asumsi tersebut akan menjadi kenyataan. Dibutuhkan wacana penyeimbang untuk mengounter masuknya ideologi radikalisme dan terorisme di pesantren. Pesantren penting mengkampanyekan dan mengajarkan peace studies,  sosial harmony dan kebhinekaan.