Pesan Direktur

Nilai Pendidikan dan Pendidikan Nilai dalam Perspektif Keluarga Kontemporer

Nilai Pendidikan dan Pendidikan Nilai dalam Perspektif Keluarga Kontemporer

Oleh: Marzuki Wardi

Barangkali kita semua sepakat bahwa pendidikan merupakan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Semua orang menginginkan hidup layak dan lebih baik, dan itu hanya bisa dicapai melalui pendidikan. Oleh karenanya, tidak heran jika kemudian (semua) orang jauh-jauh hari telah menabung untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Selain itu, kita mungkin pernah mendengar seorang ayah atau ibu berkata “rajin-rajinlah belajar agar kau tak bodoh sepertiku” kepada anaknya, bukan? Kalimat ini tentu tidak sekedar mengungkapkan ekspektasi masa depan yang lebih baik dari seorang ayah atau ibu (orang tua) kepada anaknya. Lebih dari itu, kalimat bertuah ini membuktikan betapa pendidikan merupakan hal yang begitu bernilai dalam kehidupan seorang.

Namun, dalam prosesnya, ekspektasi tersebut seringkali tidak diimbangi dengan peran serta orang tua. Banyak anak menemukan masalah dalam proses pendidikannya karena orang tua tidak paham bagaimana harus mendukung pendidikan anak dalam lingkup keluarga. Kurangnya latar belakang pendidikan membuat mereka masih mengadopsi pola dan asumsi lama dalam mendidik anak. Seperti asumsi bahwa urusan pendidikan anak sepenuhnya diserahkan ke sekolah, adalah salah satu contoh konkritnya. Akibatnya, tidak jarang ada anak berperilaku baik di depan orang tua namun di sekolah ia sering melanggar aturan dan bersikap amoral. Sehingga dari sini lah titik tolak ketimpangan sinergi orang tua dengan pihak penyelenggara pendidikan bermula.

Buah dari ketimpangan sinergi tersebut adalah miskonsepsi dan miskomunikasi.  Ini bisa dilihat dari beberapa kasus yang terjadi di Nusantara tak lama ini. Seperti di daerah Bilmong, Provinsi Sulawesi Utara misalnya. Pada 13 Februari lalu, seorang wali siswa dilaporkan menganiaya kepala sekolah karena telah menegur perilaku anaknya yang nakal.[1] Kemudian, di daerah lain, di Lombok Timur NTB, seorang ayah dan kakak dari siswa SD diringkus polisi lantaran telah membabak belurkan seorang guru honorer. Menurut pengakuan korban, awal mula kasus itu adalah ketika ia hendak memindahkan kelas siswa bersangkutan tersebab tidak bisa akur dengan seorang temannya. Lalu siswa tersebut merasa takut dan melapor ke orang tuanya. Sehingga orang tua merasa tersinggung dan berbuat kasar.[2]

Saya tentu tidak bermaksud mendiskreditkan peran orang tua secara umum dalam hal ini. Akan tetapi, itulah salah satu contoh bagaimana sinergi tidak berjalan efektif. Oleh karena itu, apa yang dibutuhkan dalam mengantisispasi kasus serupa dan mendukung keberhasilan pendidikan anak adalah, revitalisasi sinergi orang tua dengan pihak sekolah. Orang tua atau keluarga harus memiliki peran nyata dalam pendidikan anaknya di sekolah. Peran tersebut bisa dilakukan dengan beberapa upaya sebagai berikut.

Komunikasi Aktif Orang Tua dengan Pihak Sekolah

Komunikasi aktif antara orang tua dengan pihak sekolah atau sebaliknya, dimaksudkan agar orang tua mengetahui lebih jauh perkembangan anaknya. Tidak hanya perkembangan intelegensi saja, tapi juga perkembangan sikap dan perilaku. Namun, tentu bukan berarti orang tua harus mendamping anak di sekolah setiap hari. Contoh komunikasi aktif ini dapat dilakukan dengan pelibatan orang tua dalam beberapa hal misalnya:

  • Membicarakan permasalahan khusus terkait bidang akademik yang diperlukan oleh sekolah, misalnya perkembangan pembelajaran anak (baik atau buruk) atau permohonan untuk bantuan.
  • Membicarakan permasalahan terkait kehadiran dan kedisiplinan anak.
  • Membicarakan masalah yang ditemui oleh para orang tua sendiri.
  • Mengadakan pertemuan rutin seperti yang telah diagendakan dalam kalender akademik.[3]

Komunitas Keluarga

Pendekatan lain yang bisa digunakan oleh pihak sekolah dalam mengomunikasikan pendidikan yang berlangsung di sekolah adalah dengan membentuk komunitas keluarga. Pendekatan yang disarankan oleh Thomas Lickona[4], seorang tokoh pendidikan karakter ini, cocok untuk diterapkan di jenjang pendidikan dasar, di mana para orang tua bisa mengadakan petemuan rutin setiap bulan misalnya baik di sekolah maupun di rumah. Dalam pertemuan rutin itu mereka bisa saling mengenal orang tua dari teman anak-anak mereka lebih jauh lagi. Mereka bisa mengenalkan nama anak masing-masing, lalu bisa mengadakan sharing dan diskusi hal-hal terkait pola asuh dan didik anak di rumah. Contoh isi diskusi yang paling sederhana dari komunitas keluarga ini adalah jawaban dari pertanyaan bagaimana mendidik anak untuk belajar menolong keluarga di rumah? Aturan apa yang diterapkan diterapkan di rumah untuk menjadikan anak…? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang mengarah pada pertukaran pikiran dan informasi (sharing) tentang pola didik anak.

Setelah tercapainya revitalisasi hubungan antara pihak orang tua dengan sekolah menggunakan dua pendekatan di atas, orang tua juga perlu merevitalisasi hubungannya dengan anak, yakni dengan memulai dari pendidikan nilai dalam lingkup keluarga.

Pendidikan Nilai dalam Lingkup Keluarga

Sebenarnya pendidikan nilai ini sudah berlangsung di sekolah atau lembaga pendidikan. Hanya saja orang tua (keluarga) juga perlu mengawal pendidikan ini di rumah agar sinergi dan hasil yang diharapkan lebih optimal. Mengingat waktu anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan keluarga. Thomas Lickona membagi pendidikan nilai menjadi dua yaitu nilai moral dan nonmoral. Nilai moral adalah hal-hal yang dituntut dalam kehidupan ini seperti nilai kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan sebagainya. Sedangkan, nilai nonmoral tidak menuntut hal-hal seperti yang telah disebutkan. Tapi, lebih cenderung mengacu pada sikap yang berhubungan dengan apa yang diinginkan atau yang disuka. Misalnya, ketika seseorang membaca sebuah novel yang baik, maka ia tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal-hal yang terdapat di sana.

Namun, nilai-nilai moral ini juga tentu tidak terbatas pada tiga poin di atas. Orang tua juga bisa menanamkan nilai-nilai yang berpijak pada budaya bangsa. Misalnya sikap gotong royong, toleransi, tenggang rasa, musyawarah, etika dan bahasa terhadap orang yang lebih tua, dan sikap peka lainnya terhadap nilai moral. Untuk mencapai tujuan ini, orang tua bisa membangun komunikasi efektif dan positif dengan anak. Orang tua harus pandai menghadirkan suasana keluarga yang memungkinkan tumbuhnya minat anak untuk menerapkan nilai-nilai yang telah terbentuk. Namun, tentu mereka juga harus terlebih dahulu menerapkan nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak. Sehingga bisa menjadi teladan yang baik bagi anak.

Jadi, ada dua unsur yang menjadi fokus kita agar nilai pendidikan tetap terjaga dan mendukung keberhasilan pendidikan anak, yaitu pihak sekolah dan orang tua (keluarga) siswa. Tugas pihak sekolah adalah menjaga agar sinergi tetap terjalin baik, yaitu dengan mewadahi komunikasi aktif dengan orang tua siswa dan membentuk komunitas keluarga. Kemudian, tugas orang tua adalah mengembangkan pendidikan nilai dalam keluarga, untuk mengawal perkembangan pendidikan anak. Upaya-upaya oleh dua unsur ini tentu harus tetap berjalan seimbang dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. (Artikel ini telah terbit di Lombok Post Edisi 30 April 2018) Marzuki Wardi, selain berprofesi sebagai guru di sebuah SMP, ia juga aktif menulis Cerpen, Opini dan Resensi di berbagai media.

 

 

 

[1] Surya.co.id

[2] Mataram, iNews.id

[3] TULKIT-LIRP, Merangkul Perbedaan: Perangkat untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran (UNESCO Bangkok: 2006), hlm.55.

[4] Lickona Thomas, Educating for Character edisi terjemah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm.58.

Surat Terbuka Ali BD Untuk Rakyat NTB

Kepada seluruh rakyat di Nusa Tenggara Barat, ku kirimkan surat pribadiku ini. Bagi yang belum kenal denganku, kali ini kusebutkan namaku, sering dipanggil Ali BD. Sebenarnya namaku Ali atau Moh Ali atau Ali Dahlan atau Ali Bin Dahlan atau Amaq Asrul menurut panggilan Sasak sesuai nama anak yang pertama.

Lahir sebagai anak desa pada 30 Desember 1948. Sepuluh bulan lagi usiaku memasuki 70 tahun. Tinggi badanku 165 cm, berat badanku 72 kilogram. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu berat. Sesuai dengan kebanyakan orang-orang Indonesia pada umumnya. Menurut dokter yang memeriksa saya, saya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Mampu bekerja sebagai apa saja. Mungkin ini disebabkan oleh kebiasaanku berolahraga dengan jalan kaki atau memanjat gunung dan daerah perbukitan yang terjal. Kadang ada sindiran pak Ali terlalu tua menjadi calon gubernur, tapi tidak menyayangkan pejabat negara yang lebih tua dari saya. Baik sebagai gubernur atau bahkan wakil presiden. Karena ini tidak penting pada umumnya saya biarkan berlalu begitu saja.

Saya memiliki dua orang putra, yang pertama drg. H Asrul Sani dan yang bungsu Ahmad Zulfikar. Dari kedua putraku lahir lima cucu yang lucu dan menyenangkan. Kedua putraku lahir dari ibu, juga dari desa seperti saya. Namanya Hj Supinah. Seperti ibu-ibu pedesaan lainnya, sederhana. Inilah kehidupan saya dan keluarga saya, mudah dan sederhana. Tidak membedakan siapapun juga dalam pergaulan sehari-hari.

Saudaraku yang baik hati. Mungkin ada yang bertanya mengenai kegiatanku sehari-hari? Dari tahun 2013 sampai sekarang saya masih menjadi Bupati Lombok Timur (Lotim). Pernah juga menjadi bupati sebelumnya dari 2003 sampai 2008 yang lalu. Antara 2008 sampai 2014 saya menyelesaikan studi saya di jenjang S2 dan S3. Sementara itu sampai sekarang, saya tetap sebagai petani kecil. Kadang mengawasi perusahaan dan memperhatikan Universitas Gunung Rinjani yang saya dirikan pada tahun 1996 lalu. Saya juga rajin mengunjungi berbagai lembaga sosial dan pendidikan, bersilaturahmi sambil membincangkan masalah yang terjadi di tengah masyarakat.

Di luar kesibukan rutin sebagai petugas negara, saya membaca koran rata-rata 25 menit sehari, mebaca buku 30 menit, memperbaiki letak buku atau pakaian di kamar. Tampaknya menjadi pejabat negara lebih banyak waktu untuk menerima masyarakat dari berbagai kelompok yang datang dari berbagai kalangan. Baik dari wilayah Lotim maupun dari daerah lain. Saya senang banyak masyarakat yang mengunjungi saya dengan berbagai tujuan, walaupun tidak semua harapan mereka dapat terpenuhi dengan sesegera mungkin.

Seringkali tamu saya melihat saya duduk di muka papan catur. Bersama sopir atau ajudan. Mereka mengira saya seorang pemain catur kawakan. Padahal saya hanya main-main. Untuk menghilangkan kejenuhan sambil mengasah siasat dan pikiran untuk menjaga kerja syaraf dan otak. Agar tetap segar. Saya sungguh bukan pemain catur, bahkan tingkat kampung saja saya kalah, jika dipertandingkan. Saya tetap senang. Saya pernah kalah jadi bupati dan Wali Kota Mataram, tapi saya tidak pernah berhenti jadi calon bupati. Dan sekarang menjadi calon gubernur. Semua itu adalah bagian dari perputaran hidup saya.

Saudaraku, saya adalah manusia biasa. Banyak kelemahan, banyak kesalahan dan bahkan banyak orang yang merasa tidak senang dan tidak puas dengan sikap dan tingkah laku saya. Baik sebagai pribadi maupun sebagai pejabat pemerintahan.

Bahkan yang lebih tragis, ada juga yang menilai diri saya sebagai sosok yang sulit, sombong, acuh dan nyentrik. Semua julukan teresebut terserah pada yang menilainya. Sesungguhnya diri saya jauh dari sifat seperti itu. Namun saya akui, masih belum sepenuhnya saya menjadi orang baik. Itulah sebabnya, saya berusaha sekuat tenaga memperbaiki diri agar lebih baik. Saya ikut pendapat orang arif bahwa menjadi penting itu baik, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik.

Saudaraku, sekarang kita di tahun 2018. Nanti pada tanggal 27 Juni, ada Pilkada. Ada empat calon, tiga dari partai politik satu dari rakyat sendiri. Karena itulah, saya berkirim surat padamu. Rakyat yang telah besusah payah, mencalonkan saya sebagai utusanmu. Lebih dari 600 ribu KTP telah diserahkan, namun hanya 325 ribu saja yang dibutuhkan. Mereka yang namanya  ikut diverifikasi, telah dicatat sebagai pengusung independen. Sejatinya Pilkada adalah hal biasa di negara kita. Yang kurang biasa adalah jarang mengikutsertakan masyarakat mengusung calon. Inilah saatnya saudaraku rakyat NTB menggunakan haknya untuk memilih calon pemimpinnya. Bukankah hanya rakyat yang berdaulat?

Banyak orang tidak terbiasa menggunakan calon independen, lalu meremehkannya. Itu berarti meremehkan rakyat yang memiliki kedaulatan. Saudaraku tak perlu cemas, jutaan rakyat ada di belakangmu. Mereka adalah orang baik, tapi tak tahu jalan keluarnya. Kini saatnya saya bersamamu, bersama teman-teman kita dari berbagai kalangan. Ibu rumah tangga, para pengangguran, petani, buruh, guru honorer, guru besar, dosen, pemuda, pelajar, sopir, wartawan, nelayan, para tuan guru, ustad, dokter dan tenaga kesehatan lainnya, serta semua komponen masyarakat yang tak mampu saya sebutkan namanya. Kita berkumpul di sini untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Dalam bahasa rakyat yang tidak dibungkus dengan kata-kata manis, namun di dalamnya penuh tipu daya. Kita rakyat biasa, biasa hidup dan berpikir sederhana. Dalam kesederhanaan itu, kita lebih cepat diperdaya, saya bersamamu rakyat NTB.

Saudaraku, negara ini sungguh penting bagi kita dan generasi mendatang. Rakyatlah yang mendirikannya, karena itu kita yang harus menjaganya. Momentum Pilkada hendaknya kita gunakan untuk menguatkan persatuan bangsa ini. Janganlah saudaraku terseret dalam gelombang politik yang menghalalkan segala cara. Janganlah saudaraku terseret politik yang memecah belah untuk memeroleh keuntungan sendiri. Rakyat telah lama sulit dalam hidupnya, karena itu jangan dipersulit dengan cara mengadu domba. Negara Indonesia yang didirikan oleh semua komponen bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan agama. Bahasa dan adat istiadatnya adalah negara yang indah dan hebat. Pilkada adalah ajang berdemokrasi, bukan gelanggang saling menjatuhkan.

Saudaraku, rakyat NTB yang saya cintai. Di saat Pilkada banyak pihak yang datang padamu dengan berbagai gaya dan siasatnya demi meraih tujuannya. Sungguh mereka juga saudara kita yang sedang memanfaatkan waktunya untuk meraih kemenangan. Dalam pepatah Sasak ada ungkapan sebagai berikut. Dengan bebodo tekaken isiq dengan rireh. Karena itulah agama kita mewajibkan menuntut ilmu bagi kita semua. Ajang Pilkada tahun ini adalah tahapan penting bagi rakyat meningkatkan ilmunya dengan memperjuangkan haknya. Khususnya hak politiknya secara langsung melalui calon independen.

Saudaraku, saya di sini Amaq Asrul bersama Lalu Gede Sakti akan tetap bersama dan berdiri di garis paling depan untuk memperjuangkan hak-hakmu yang telah hilang atau dirampas secara semena-mena. Saya dan rakyat mengajakmu berterima kasih pada pemimpin-pemimpin terdahulu, pada Gubernur NTB, mulai dari Ruslan Cakraningrat, Wasita Kusuma, Gatot Suherman, Warsito, Harun Alrasyid, Lalu Serinata, sampai gubernur kita yang sekarang TGB Dr Zainul Majdi yang baik hati. Mereka telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi perkembangan daerah ini. Orang baik selalu menghargai kebaikan orang lain, lebih-lebih para pemimpinnya. Pemerintahan yang akan datang sesungguhnya adalah melanjutkan pemerintahan yang sekarang, tetapi dengan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu, wahai saudaraku, surat yang kukirim ini hanyalah pendahuluan dari suratku yang akan datang, sebagai penyempurnaan dari kekurangan dalam lembaran-lembaran surat ini. Sampai jumpa besok, salam dari saudaramu. Amaq Asrul. (advertorial/iklan-telah dimuat di Lombok Post)

 

ALI BD Ajak Mahasiswa Pertahankan Budaya

Mataram-LOMBOK POST- Budaya saat ini banyak yang mulai dilupkan. Padahal ini adalah hasil cipta, rasa, dan karsa dari para pendahulu. Bupati Lombok Timur H Ali BD menyorotinya dalam dialog kebangsaan dan kebudayaan di Gedung PGRI NTB Kamis (25/1). Dialog yang di gagas Ali Dachlan Center (ADC) mengangkat tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Adat dan Budaya Lokal sebagai identitas NTB berkarakter”.

“Kita mengalami kirisis jika tidak mengatakan kebenaran” Kata Ali BD. Tak hanya Ali, pembicara pada dialog ini juga Guru Besar Unram Prof Mahyuni, Dr I Wayan Wirata, dan Saipul Hamdi. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai Perguruan Tinggi di NTB.

Ali pun mengingatkan, kepentingan politik tak boleh sampai menunggangi agama. Saat ini sulit membedakan nilai nilai budaya dan agama yang memiliki kepentingan. Peristiwa bentrok antar kampong di berbagai wilayah di NTB menandakan ada masalah pada pelaksanaan Agama. GAama dipolitisir oleh bebebrapa pihak  yang menyebabkan lunturnya semangat menghargai perbedaan. “Agama menjaga ummatnya untuk memahami perbedaan. Jika itu luntur maka akan terjadi bentrok,” bebernya.

“Duu zaman Hayamuruk, Majapahit, Sriwijaya tidak ada bentrok. Masuknya agama Hindu, Buda, Kristen semua damai. Tidak ada agama yang mengajarkan menyerang agama lain,” imbuhnya.

Dialog ini pada intinya, kata Ali, memperkenalkan nilai nilai budaya dan menjalankan agama. Bukan mempolitisir agama. Dibangun daerah pariwisata jangan ada embe-embel. Seperi pariwisata syariah dan sebagainya. “Namanya orang pariwisata pasti mengeluarkan duit. Foya-foya.” Ujarnya.

Sementara itu, Guru besar universitas Mataram Prof Mahyuni mengatakan, budaya local ini harus dipertahankan. Berbicara bahasa cukup banyak variannya. NTB sagat kaya akan varian bahasa. Banyaknya varian bahasa ini menandakan banyakanya orang kreatif. Seperti nasi banyak sekali sebutannya, mulai modeng, motok, sengarek, dan sebagainya. “kita ini kaya akan bahasa,” tuturnya.

Diungkapkan, semakin banyak varian bahasa maka semakin banyak orang kreatif. Karena membuat nama dari sebuah bahasa membutuhkan pemikiran. “jadi jika banyak varian bahasa maka banyak orang kreatif,” sambungnya.

Sementara itu sekertaris Ali Daclan center (ADC) Lembaga Riset Pendidikan dan Training M Zaki Pahrul Hadi menuturkan, dalam rangka merevitalisasi nilai-nilai adat dan budaya yang mulai terkikis budaya luar maka pihaknya membuat kegiatan ini. Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran dalam melestarikan nilai-nilai budaya. “budaya seperti kecimol mulai banyak penyimpangan. Budaya ini harus diluruskan. Kami bangga menjadi orang sasak,” tutrnya. (Jay/r9/*)

1 2 3 11